Ini Alasan Orang Membeli Buku Bekas



buku jadul Enid blyton

Saya jualan buku bekas? Ya, pernah. Tapi udah dua tahunan ini saya jarang berburu ke tempat jual beli buku bekas lagi. Alasan utama mungkin waktu dan kondisi fisik yang belakangan ini cepat lelah.
Iyes, bukan cuma hayati yang mudah lelah. Saya juga.


Berburu Buku Bekas

Sebenarnya, banyak hal menarik yang saya dapatkan dari berburu buku bekas di berbagai sudut Kota Bandung.
Salah satunya adalah banyaknya penjualan buku bajakan. Tentang buku bajakan ini bisa di blogpost saya yang ini:


Kalau berburu buku diskonan atau obralan seperti di Out of The BooxMizan atau Gramedia Big Sale, ada banyak makemak jastiper yang juga berburu. Yang sambil ngegendong bayi pun ada.
Tapi lain ceritanya kalau berburu buku bekas di lapak pinggir jalan. Saya sering jadi pemburu buku jalanan yang paling cantik. Nggak usah protes. Yang lain laki-laki sih. Hehe ….
Panas matahari, debu jalanan, asap kendaraan, asap rokok, jari-jemari dan kuku tangan hitam dekil oleh debu … udah jadi temen akrab deh waktu itu.
Tapi saya senang aja berlama-lama nyari buku sambil ngobrol sama babang-babang pelapak di pinggir jalan.
Buku bekas yang saya buru bukan sembarang buku bekas. Biasanya saya mencarikan pesanan teman.
Iyaaa, teman-teman saya banyak yang minta dicarikan buku tua, buku jadul. Dan buku begitu biasanya udah bekas punya orang. Di toko buku seperti Gramedia dan Togamas jelas nggak ada.
Ih, ngapain sih beli buku bekas? Memangnya nggak bisa beli buku yang baru aja?
Nggak! Nggak bisa!

Nilai Sebuah Buku Bekas

Seriusan. Kebanyakan yang memesan buku bekas atau buku tua pada saya memang nggak bisa membeli buku yang baru.
novel jadul bekas tahun 80an
Novel bekas terbitan 1980an, pesanan seorang teman.
Bukan karena nggak punya uang tapi karena nilai historis yang terkandung pada buku tersebut. Nilai historis itu yang nggak mungkin ada pada buku yang sama dengan tahun terbit lebih muda.
Misalnya, nih. Ada yang minta dicarikan novel-novel karya Marga T dan Mira W terbitan tahun 1980an.
Yes, spesifik terbitan tahun 1980an. Padahal karya-karya kedua novelis beken itu kan masih dicetak ulang sampai sekarang.
Alasannya?
Dia kangen pada almarhumah ibunya. Sang ibu adalah penggemar novel Mira W dan Marga T. Yang dibaca sang ibu ketika itu tentu saja terbitan lama, tahun 1980an.
Dengan novel-novel lama itu di rumahnya, sang ibu seolah hadir lagi.
Ada yang minta dicarikan buku-buku cerita jadul karena dendam masa lalu.
Waktu kecil orangtuanya nggak mampu membelikan buku-buku itu. Dia cuma bisa minjem punya temen, itu juga kalau dipinjemin.
Setelah dewasa dan mandiri, mulai deh mencari buku-buku lama itu. Cuma ya begitulah, setelah sekian puluh tahun berlalu, buku-buku masa kecilnya itu sudah jadi barang langka.
Ada juga yang meminta dicarikan novel-novel jadul dengan judul tertentu gara-garanya koleksinya habis disapu banjir.
Sedihnya, kebanyakan novel itu tak ada cetak ulangnya. Jadi, satu-satunya cara adalah berburu di pasar buku bekas. Dan itu kerap seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Teman-teman saya sesama penulis sering nitip dicarikan buku lama mereka atau majalah lama yang memuat karya mereka.
majalah jadul bekas
Majalah Bobo dan Kartini lawas.

Biasanya, dokumentasi pribadi mereka hilang karena kebanjiran atau rusak dimakan rayap. Ada juga yang dikiloin oleh keluarga mereka gara-gara lama merantau dan nggak pulang-pulang.
Yang paling epic, ada yang nyari buku bekas miliknya sendiri. Buku-buku itu dulu dikiloin oleh orangtuanya. Untuk yang ini, bener-bener butuh keberuntungan level maksimum.

Karena Harganya Lebih Murah

Yes, harga lebih murah sering jadi alasan seseorang membeli buku bekas. Tapi … ada tapinya nih.
Sekarang (saya menulis ini 14 September 2019), buku bekas nggak selalu lebih murah dibandingkan yang masih segelan alias masih wrapped. Sering buku segelannya malah lebih murah atau paling nggak sama harganya.
Kok bisa?
Bisa aja dong, Zheyenk. Buku-buku yang slow selling akan cepat masuk ke harga diskon besar, lalu jatuh ke harga obral.
Belum lagi kalau penerbitnya bikin event belanja di gudang. Huwiiiiw….itu harganya murrrrah abis! Salah satu yang bikin murah adalah karena memangkas biaya distribusi dan display di toko buku. Fyi, biaya distribusi ini sekitar 45%-55% dari harga jual buku.
belanja buku murah
Belanja buku di gudang penerbit.

Kalo udah gitu, nggak heran kan harga buku yang masih segelan bisa lebih murah daripada yang bekas?

Buku Bekas Tetap Dicari

Harga diri kita nggak akan jatuh karena membeli buku bekas, buku tua, atau buku jadul.
Ya pokoknya selama belinya pakai uang halal, bukan hasil nipu atau korupsi.
Malu atau nggak sempat blusukan sendiri ke tempat jual beli buku bekas? Woles! Ada orang-orang kayak saya yang menganggap nyari buku bekas itu seperti petualangan mencari harta karun. Hehe….
Masih ada keseruan lain dari perjalanan saya berburu buku bekas. Saya ceritakan lain waktu, ya. Itu juga kalau nggak lupa :D

Salam,
Triani Retno A
Penulis buku anak
Penulis novel
Editor Indonesia
Blogger Indonesia
Blogger Bandung
Previous
« Prev Post

Related Posts

Ini Alasan Orang Membeli Buku Bekas
4/ 5
Oleh

1 comments:

  1. wah kayaknya seru nih kalo berburu buku pas penerbit lagi ngadain event beli buku di gudangnya langsung gitu huhu

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon maaf, komentar dengan link hidup dan broken link akan saya hapus :)