“Saya nggak suka minum kopi.” Begitu beberapa komentar yang masuk di tulisan saya tentang coffee shop.
Bukan review tentang coffee shop sih. Cuma sedikit cerita pengalaman saya mampir ke coffee shop di Bandung atau kota lainnya. Kedai kopinya juga random aja.
Saya bukan pemburu kedai kopi kekinian yang sedang hits, yang ramai dikunjungi, atau yang banyak masuk ke konten para influencer.
Saya lebih suka kedai kopi yang tenang. Yang saya bisa duduk sendirian di salah satu sudutnya sambil menulis atau membaca buku tanpa khawatir dijadikan konten “kasihan banget” oleh para pemburu konten.
Mereka tidak tahu saja nikmatnya duduk sendirian di pojokan kedai kopi sambil membaca buku, menulis, ngelaptop, atau menikmati pemandangan di luar (meski sekadar lalu-lalang orang dan kendaraan).
Lalu, bagaimana dengan yang bilang nggak suka minum kopi itu?
Hm ..., kalau saja mereka tahu bahwa di coffee shop tidak hanya ada kopi, tetapi juga ada menu lainnya.
Di Kopi Ladju Arcamanik, misalnya. Pertama kali ke sini saya memang memesan es kopi susu. Tapi kedua kalinya ke sini saya memesan ... kolak!
Aneh? Ah, enggak kok. Kopi Ladju memang mengangkat image sebagai satu-satunya coffee shop di Bandung yang pengunjungnya bisa santai ngopi sekaligus menikmati kolak.
Kalau Teman-teman pernah baca tulisan saya tentang Ngopi Santai di Jalan Pulang, nah tempat yang saya datangi kali ini masih dekat-dekat dari Jalan Pulang. Sama-sama di Arcamanik, bahkan hanya berjarak sekitar 100 meter.
Kalau Jalan Pulang agak masuk dikit ke perumahan, Kopi Ladju berlokasi di sisi jalan raya. Sebelahan dengan Zoom Pet Care dan drh. Prananda yang cukup terkenal di kalangan pawrents Bandung.
Kebetulan bulan Juli kemarin saya cukup sering ke Arcamanik. Di salah satu harinya, saya memutuskan mampir ke Kopi Ladju.
Begitu membuka pintu, rasanya seperti masuk ke sebuah rumah hunian yang tenang. Penataan ruangnya simpel. Enam meja kayu dan satu meja bar.
Tiga pot tanaman hias menjadi penyegar suasana. Di atas setiap meja ada vas kecil berisi sirih gading.
Setelah kepanasan dari luar (hei, Bandung nggak selalu sejuk!), minuman dingin pasti akan terasa sangat nikmat. Jadi, pilihan saya adalah Es Kopi Susu Meladju (Rp18.000 nett).
Bagi saya, kalau baru pertama kali datang ke sebuah coffee shop, memesan menu yang mencantumkan namanya sendiri sering menjadi pilihan.
Walaupun mungkin tak berbeda jauh dari eskosu di tempat lain, dengan mencantumkan nama sendiri mestinya sudah menjadi jaminan rasa.
Es Kopi Susu Meladju menemani saya membuat rancangan cerita untuk lanjutan novel Hijab for Sisters Masih Betah di Pesantren.
Setelah berminggu-minggu hanya minum kopi hitam sachet di rumah, minum eskosu dengan “kopi beneran” begini rasanya langsung memacu mood kerja.
Mood makin meroket ketika tiba-tiba ada pesan masuk dari editor saya di Elex Media Komputindo, mengabarkan bahwa novel saya Hijab for Sisters Masih Betah di Pesantren sedang proses cetak ulang.
Alhamdulillaaaah.
Baca Juga: Paragraph Coffee, Tempat Ngopi Asik di Bandung
Meskipun senang dengan suasana nyaman di Kopi Ladju, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Sebelum eskosu habis, saya memesan kolak untuk dibawa pulang.
Ada lima macam kolak dan bubur yang tersedia. Kolak pisang, bubur ketan hitam, bubur sagu ambon, bubur pacar mutiara, dan bubur candil ubi.
Satu porsi dibandrol dengan harga Rp18.000 nett. Mau satu macam atau mix 5 macam, harganya tetap segitu. Karena ingin mencicipi semuanya, saya memesan dua porsi yang mix.
Berbeda dengan Kopi Ladju yang baru berusia 2 tahun, Kolak Oma sudah berkiprah di dunia perkulineran Bandung sejak tahun 1980.
Dari cerita Pak Verry Wiratna sang owner, pada tahun 1980 itu Kolak Oma berlokasi di Jalan Pungkur, Bandung. Baru kemudian pada tahun 2010 pindah ke Arcamanik.
Tahun 2023 barulah Kopi Ladju hadir. Bukan sekadar sebagai tren kekinian tetapi juga melengkapi Kolak Oma.
Ini mengingatkan saya pada Taman Bacaan Hendra x Encykoffee di kawasan Cihapit, Bandung. TB Hendra didirikan oleh opa-oma (orang tua Pak Hendra). Ketika datang tren ngopi-ngopi di kafe, sang cucu (putra Pak Hendra) mendirikan Encykoffee di terasnya.
Kalau di Encykoffee kita bisa ngopi sambil membaca koleksi buku milik TB Hendra, di Kolak Oma kita bisa ngopi sambil makan kolak. Mau baca buku juga bisa, walaupun pilihannya sedikit.
Ketika saya ke Kolak Oma, hanya ada 6 buku sebagai pajangan, tapi boleh dibaca di tempat. Saya sudah pernah baca 4 dari 6 buku itu: Burung-Burung Manyar (Romo Mangun), Totto Chan, dan dua novel karya Marga T (Setangkai Edelweis dan Seribu Tahun Kumenanti).
Tahun 2025 ini adalah tahun ke-45 Kolak Oma. Saking lawasnya Kolak Oma ini, ibu saya (80 tahun) juga langsung ngeh ini Kolak Oma ketika saya bilang beli kolaknya di Arcamanik.
Ibu saya tuh rewel banget kalau dibawain makanan. Adaaaa aja kurang enaknya. Sejauh ini yang approved tanpa komplen sedikit pun baru tiga: Bolu Susu Lembang, martabak Aceh dan mi Aceh dari Dapur Faisal, dan satu lagi kolak campur made in Kolak Oma. Bukan cuma nggak komplen, tapi malah pesen lagi.
Kolak campur buatan Kolak Oma ini memang enak banget, sih. Bubur ketan hitamnya asli lembut, nggak ada keras-kerasnya. Pisang tanduknya empuk dan manis. Candilnya juga nggak ngajak berantem.
Secara keseluruhan, setelah dicampur santan yang dikemas terpisah, rasa manis legitnya bakal bikin susah berhenti.
Kata Pak Verry sih, resep kolaknya masih sama sejak tahun 1980 lalu. Pantes aja ibu saya langsung tahu kalau kolak yang saya bawa adalah Kolak Oma.
Sabtu 2 Agustus 2025, lagi-lagi saya ada keperluan di Arcamanik. Dan lagi-lagi saya mampir ke Kolak Oma x Kopi Ladju. Kali ini lengkap dengan laptop karena ada beberapa artikel yang harus saya selesaikan.
Kali ini sebagai teman menulis bukan segelas kopi, melainkan semangkuk bubur-kolak campur.
Soooo, kalau kalian sedang di Bandung, khususnya di sekitaran Arcamanik, coba deh mampir ke Kolak Oma x Kopi Ladju. Mampir ke coffee shop nggak berarti harus minum kopi, kok.
Oya, soal kopi-kopi di Kota Bandung, ada satu kedai kopi yang juga menyediakan kelas kopi, baik untuk belajar meracik kopi (kelas barista) maupun manajamen kedai kopi.
Saya belum pernah ikut kelas kopinya, tapi beberapa kali ngopi di sana kalau butuh tempat tenang. Baca deh di tulisan saya Dewaji CoffeeLab.
Buat Teman-teman yang ingin ke Kopi Ladju x Kolak Oma, baik untuk minum kopi atau menikmati kolak legendaris di Kota Bandung, ini alamatnya:
Kopi Ladju x Kolak Oma
Jalan Golf Barat Raya No. 2, Arcamanik, Bandung 40293
Coffee Shop di Arcamanik
![]() |
Kopi Meladju, eskosu ala Kopi Ladju. |
Kalau Teman-teman pernah baca tulisan saya tentang Ngopi Santai di Jalan Pulang, nah tempat yang saya datangi kali ini masih dekat-dekat dari Jalan Pulang. Sama-sama di Arcamanik, bahkan hanya berjarak sekitar 100 meter.
Kalau Jalan Pulang agak masuk dikit ke perumahan, Kopi Ladju berlokasi di sisi jalan raya. Sebelahan dengan Zoom Pet Care dan drh. Prananda yang cukup terkenal di kalangan pawrents Bandung.
Kebetulan bulan Juli kemarin saya cukup sering ke Arcamanik. Di salah satu harinya, saya memutuskan mampir ke Kopi Ladju.
Begitu membuka pintu, rasanya seperti masuk ke sebuah rumah hunian yang tenang. Penataan ruangnya simpel. Enam meja kayu dan satu meja bar.
Tiga pot tanaman hias menjadi penyegar suasana. Di atas setiap meja ada vas kecil berisi sirih gading.
Setelah kepanasan dari luar (hei, Bandung nggak selalu sejuk!), minuman dingin pasti akan terasa sangat nikmat. Jadi, pilihan saya adalah Es Kopi Susu Meladju (Rp18.000 nett).
Bagi saya, kalau baru pertama kali datang ke sebuah coffee shop, memesan menu yang mencantumkan namanya sendiri sering menjadi pilihan.
Walaupun mungkin tak berbeda jauh dari eskosu di tempat lain, dengan mencantumkan nama sendiri mestinya sudah menjadi jaminan rasa.
Es Kopi Susu Meladju menemani saya membuat rancangan cerita untuk lanjutan novel Hijab for Sisters Masih Betah di Pesantren.
Setelah berminggu-minggu hanya minum kopi hitam sachet di rumah, minum eskosu dengan “kopi beneran” begini rasanya langsung memacu mood kerja.
Mood makin meroket ketika tiba-tiba ada pesan masuk dari editor saya di Elex Media Komputindo, mengabarkan bahwa novel saya Hijab for Sisters Masih Betah di Pesantren sedang proses cetak ulang.
Alhamdulillaaaah.
Baca Juga: Paragraph Coffee, Tempat Ngopi Asik di Bandung
Kolak Legendaris
![]() |
Salah satu sudut Kopi Ladju x Kolak Oma. |
Meskipun senang dengan suasana nyaman di Kopi Ladju, saya tidak bisa berlama-lama di sini. Sebelum eskosu habis, saya memesan kolak untuk dibawa pulang.
Ada lima macam kolak dan bubur yang tersedia. Kolak pisang, bubur ketan hitam, bubur sagu ambon, bubur pacar mutiara, dan bubur candil ubi.
Satu porsi dibandrol dengan harga Rp18.000 nett. Mau satu macam atau mix 5 macam, harganya tetap segitu. Karena ingin mencicipi semuanya, saya memesan dua porsi yang mix.
Berbeda dengan Kopi Ladju yang baru berusia 2 tahun, Kolak Oma sudah berkiprah di dunia perkulineran Bandung sejak tahun 1980.
Dari cerita Pak Verry Wiratna sang owner, pada tahun 1980 itu Kolak Oma berlokasi di Jalan Pungkur, Bandung. Baru kemudian pada tahun 2010 pindah ke Arcamanik.
Tahun 2023 barulah Kopi Ladju hadir. Bukan sekadar sebagai tren kekinian tetapi juga melengkapi Kolak Oma.
Ini mengingatkan saya pada Taman Bacaan Hendra x Encykoffee di kawasan Cihapit, Bandung. TB Hendra didirikan oleh opa-oma (orang tua Pak Hendra). Ketika datang tren ngopi-ngopi di kafe, sang cucu (putra Pak Hendra) mendirikan Encykoffee di terasnya.
Kalau di Encykoffee kita bisa ngopi sambil membaca koleksi buku milik TB Hendra, di Kolak Oma kita bisa ngopi sambil makan kolak. Mau baca buku juga bisa, walaupun pilihannya sedikit.
Ketika saya ke Kolak Oma, hanya ada 6 buku sebagai pajangan, tapi boleh dibaca di tempat. Saya sudah pernah baca 4 dari 6 buku itu: Burung-Burung Manyar (Romo Mangun), Totto Chan, dan dua novel karya Marga T (Setangkai Edelweis dan Seribu Tahun Kumenanti).
Tahun 2025 ini adalah tahun ke-45 Kolak Oma. Saking lawasnya Kolak Oma ini, ibu saya (80 tahun) juga langsung ngeh ini Kolak Oma ketika saya bilang beli kolaknya di Arcamanik.
![]() |
Kolak legendaris di Bandung. |
Ibu saya tuh rewel banget kalau dibawain makanan. Adaaaa aja kurang enaknya. Sejauh ini yang approved tanpa komplen sedikit pun baru tiga: Bolu Susu Lembang, martabak Aceh dan mi Aceh dari Dapur Faisal, dan satu lagi kolak campur made in Kolak Oma. Bukan cuma nggak komplen, tapi malah pesen lagi.
Kolak campur buatan Kolak Oma ini memang enak banget, sih. Bubur ketan hitamnya asli lembut, nggak ada keras-kerasnya. Pisang tanduknya empuk dan manis. Candilnya juga nggak ngajak berantem.
Secara keseluruhan, setelah dicampur santan yang dikemas terpisah, rasa manis legitnya bakal bikin susah berhenti.
Kata Pak Verry sih, resep kolaknya masih sama sejak tahun 1980 lalu. Pantes aja ibu saya langsung tahu kalau kolak yang saya bawa adalah Kolak Oma.
Sabtu 2 Agustus 2025, lagi-lagi saya ada keperluan di Arcamanik. Dan lagi-lagi saya mampir ke Kolak Oma x Kopi Ladju. Kali ini lengkap dengan laptop karena ada beberapa artikel yang harus saya selesaikan.
Kali ini sebagai teman menulis bukan segelas kopi, melainkan semangkuk bubur-kolak campur.
Soooo, kalau kalian sedang di Bandung, khususnya di sekitaran Arcamanik, coba deh mampir ke Kolak Oma x Kopi Ladju. Mampir ke coffee shop nggak berarti harus minum kopi, kok.
Oya, soal kopi-kopi di Kota Bandung, ada satu kedai kopi yang juga menyediakan kelas kopi, baik untuk belajar meracik kopi (kelas barista) maupun manajamen kedai kopi.
Saya belum pernah ikut kelas kopinya, tapi beberapa kali ngopi di sana kalau butuh tempat tenang. Baca deh di tulisan saya Dewaji CoffeeLab.
Alamat Kolak Oma x Kopi Ladju
![]() |
Kopi Ladju |
Buat Teman-teman yang ingin ke Kopi Ladju x Kolak Oma, baik untuk minum kopi atau menikmati kolak legendaris di Kota Bandung, ini alamatnya:
Kopi Ladju x Kolak Oma
Jalan Golf Barat Raya No. 2, Arcamanik, Bandung 40293
- Jam Buka: 07.00 – 21.00 WIB
- Fasilitas: smoking area, non smoking area, toilet bersih, mushola, novel yang bisa dibaca sambil ngopi.
- Menu: Minuman kopi dan nonkopi (mulai harga Rp18.000), kolak, bubur ayam, nasi bakar, camilan (mulai harga Rp5.000)
- Instagram: @kopiladju
Terima kasih sudah mampir.
BalasHapus