Buah-Buahan Favorit di Aceh


Buah-buahan jadul

Kalau kalian berharap akan membaca sejarah kuliner atau sejarah perkebunan buah-buahan di Aceh dari abad ke abad, mohon maaf, kalian salah.

Saya hanya ingin bercerita tentang masa kecil saya di Banda Aceh. Masa kecil saya di sana bukan baru 5-10 tahun silam, melainkan sudah sekian kabinet yang lalu.

Tanpa menyebut tahun, pada masa itu siaran televisi baru ada TVRI. Si Unyil menjadi tayangan yang selalu ditunggu anak-anak setiap hari Minggu pagi.

Ketika itu dengan uang lima rupiah (Rp5) sudah bisa membeli jajanan di warung. Ya, Anak Muda, negara kita pernah memiliki alat tukar berupa koin Rp5, juga Rp10.

Jadi, ketika Pak Ogah di film Unyil mengatakan ”Cepek dulu, dong” alias minta uang seratus rupiah jika ada orang yang mau lewat, itu nilainya sudah besar sekali.

Sekarang? Dengan inflasi yang terus menggila, uang seratus rupiah jadi recehan yang bahkan sering tak dianggap dan terbuang.

Tanpa Ciki-Cikian

Jajanan kemasan yang sekarang disebut ciki-cikian belum ada pada masa kecil yang sedang saya ceritakan ini.

Pilihan jajanan memang terbatas. Namun, karena itu kami justru terbiasa mengonsumsi makanan yang lebih sehat tanpa proses berlebihan. Salah satunya adalah buah-buahan.

Banyak sekali buah yang menjadi pilihan, bahkan bisa langsung petik dari pohonnya. Tidak pakai dicuci dulu, langsung lep dimakan.

Pernah melihat video content creator di Eropa yang langsung melahap buah yang baru dipetik tanpa mencucinya lagi? Kira-kira seperti itulah anak-anak di masa kecil saya.

Sayangnya, karena pada masa itu belum ada ponsel berkamera, saya tidak punya dokumentasi buah-buahan kesukaan saya tersebut. Semua foto yang ada di artikel ini saya ambil dari internet.

Buah-Buahan Favorit

Setelah tak lagi tinggal di Banda Aceh, bertahun-tahun saya tak pernah lagi menikmati buah-buahan kesukaan semasa kecil.

Hingga kemudian saya tumbuh dewasa dan menemukan buah-buahan itu di kota lain. Namun, tetap saja. Rasa buah-buahan yang saya makan semasa kecil itu tak ada yang mengalahkan. Sedapnya telanjur mengabadi dalam kenangan.

Berikut ini beberapa buah favorit saya semasa kecil:

1. Rumbia

Buah rumbia
Buah rumbia.

Rumbia disebut juga boh meuria dan salak hutan Aceh. Rasa buahnya kelat (sepat), terkadang ada sedikit rasa manis yang malu-malu.

Mudah sekali menemukan buah rumbia di Aceh kala itu. Di depan salah satu rumah di kompleks tempat tinggal saya pun ada. Dengan suka cita kami memunguti buahnya yang berjatuhan ke tanah.

Biasanya kami memakan buah rumbia ini dengan garam dan pliek u, atau cukup garam saja. Yang paling istimewa tentu saja buah rumbia yang dibuat manisan berkuah. Meskipun namanya manisan, tetapi cita rasanya pedas manis asin. Aduh, menulis ini saja rasanya air liur saya menitik.

Setelah sekian tahun meninggalkan kota masa kecil, surprais banget ketika akhirnya menemukan buah rumbia di Jakarta. Tepatnya di sebuah warung makan di kawasan Blok M.

Itu pun tak sengaja. Saya sedang jalan-jalan tanpa tujuan di Blok M. Ketika merasa lapar, saya mampir ke warung tersebut untuk memesan martabak Aceh plus kuah gulai. Eh, ternyata ada satu wadah berisi buah rumbia.

Senangnya lagi, abang-abang pemilik warung itu memberi saya dua butir buah rumbia, gratis.

2. Jamblang

Buah jamblang
Buah jamblang.

Buah berwarna ungu kehitaman ini juga menjadi salah satu favorit saya dan banyak anak kecil lainnya. Tampilannya mirip anggur. Rasanya manis, asem, dan ada sepat-sepatnya. Paling enak dimakan dengan cocolan pliek u dan garam.

Pliek u adalah bumbu masak khas Aceh. Terbuat dari ampas kelapa yang difermentasi, kemudian dikeringkan.

Buah jamblang ternyata ada di berbagai daerah di Indonesia dengan nama yang berbeda-beda. Misalnya juwet, duwet, jambulan, dan jambu kling.

Bertahun-tahun tak memakan buah ini, saya merasa senang sekali ketika menemukannya di keranjang seorang pedagang di Pasar Ujungberung, Bandung.

3. Sentul

Buah sentul
Buah sentul.

Pulang dari sekolah, saya biasa menyusuri lapangan nan luas. Itu adalah jalan terdekat untuk menuju rumah.

Di bawah pohon asam yang rindang pada salah satu sisi lapangan, ada penjual manisan buah-buahan. Salah satunya adalah manisan sentul.

Saya suka jajan di situ. Membeli manisan sentul dengan kuahnya yang manis asin pedas.

Buah sentul ini disebut juga buah kecapi. Pernah memakannya juga?

Baca Juga: Sirop Favorit Saat Lebaran di Aceh

4. Buah seri

Buah seri
Buah seri.

Ya, begitulah kami menyebutnya. Buah seri. Pohonnya bercabang-cabang dengan daun-daun kecil berpermukaan halus. Buahnya kecil-kecil. Kalau sudah matang warnanya merah dan rasanya manis sekali.

Kami, anak-anak kecil ini, suka sekali memanjat pohon seri untuk memetik buahnya.

Bertahun-tahun kemudian barulah saya tahu bahwa dalam bahasa Indonesia baku buah ini bernama kersen. Nama latinnya adalah Mutingia calabura.

Di beberapa daerah ada juga yang menyebutnya buah ceri (meskipun berbeda dengan buah cherry) atau buah talok.

Saya masih sering menemukan pohon buah ini, bahkan tetangga sebelah rumah di Bandung pun punya pohon ini. Setelah beliau meninggal dan rumahnya dijual oleh ahli waris, pohon itu ditebang oleh pemilik barunya.

5. Asam jawa

Asam jawa

Di depan rumah masa kecil saya, pohon asam Jawa berdiri gagah. Begitu juga di depan rumah-rumah lain di kompleks itu. Pohon asam Jawa peninggalan zaman Belanda berjejer rapi.

Baca Juga: Masa Kecil di Rumah Tua Peninggalan Belanda

Saya dan teman-teman suka sekali memunguti buahnya yang berjatuhan. Kadang dimakan begitu saja, kadang dicocol gula pasir, kadang diseduh dengan air hangat dan ditambah gula. Amboi, sedapnya!

Di Pulau Jawa, saya sering menemukan buah asam jawa ini dikemas dalam plastik kecil dan dijual di warung sayur sebagai bumbu masak.

Kalau memungut buahnya di tanah baru saya lakukan lagi ketika sedang jalan-jalan di kawasan Candi Prambanan, Jawa Tengah. Seketika kenangan masa kecil menyeruak ke permukaan.

6. Buah cermai

Buah cerme
Buah cermai.

Ceureumoe, begitu namanya di Aceh. Tapi lidah saya menyebutnya cerme.

Buah berukuran kecil berwarna kuning pucat ini juga merupakan bagian dari camilan saya dulu. Rasanya aseeeem. Enaknya sih dimakan kalau sudah berupa manisan, baik itu manisan kering maupun manisan basah (berkuah).

Di tempat kakak saya di Depok ada pohon cermai, tapi sayangnya dia selalu lupa membawa buah itu kalau ke Bandung.

7. Buah nona

Buah nona
Buah nona.

Semasa kecil di Banda Aceh saya mengenal buah ini sebagai buah nona. Pohon ini tumbuh subur di halaman rumah tetangga saya.

Kulitnya berwarna merah dan bersisik, daging buahnya putih dan manis, serta memiliki banyak biji. Biji-biji buah nona ini sering kami cuci bersih lalu digunakan untuk main congklak.

Sekian tahun kemudian, di Jawa Tengah dan Jawa Barat, saya menemukan buah srikaya (sarikaya). Mirip sekali dengan buah nona, tetapi kulitnya berwarna hijau.

Setelah mencari-cari informasi, jelaslah sudah. Buah nona (Annona reticulata), buah srikaya (Annona squamosa), dan buah sirsak (Annona muricata) ternyata masih satu keluarga Annonaceae.

Tak juga menemukan buah nona, buah srikaya pun jadilah sebagai obat rindu.

Penutup

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki beragam buah-buahan. Baik yang asli Indonesia maupun yang berasal dari negara lain tetapi tumbuh subur di Indonesia.

Rasanya tak akan ada bosannya mengeksplorasi buah-buahan yang ada di Indonesia.

Apa kalian juga punya kenangan dengan buah-buahan tertentu semasa kanak-kanak?

1 komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.