Kehilangan Kucing Kesayangan Ternyata Sesedih Ini


Kucing kesayangan meninggal

Enam setengah tahun bukan waktu yang singkat untuk kebersamaan dengan seekor kucing. Apalagi dengan kucing kesayangan semanis Buncis.

Ya, namanya Buncis. Banyak peristiwa yang saya alami bersamanya, termasuk yang di luar nalar.

Tulisan ini semacam obituari tentangnya. Obituari yang baru sanggup saya tulis lebih satu bulan setelah kucing kesayangan meninggal.

Pertemuan Pertama

Kehilangan kucing kesayangan
Tiga kucing serupa di Mekah, Jeddah, dan Bandung.

Kenangan bersama kucing Buncis ini harus diawali dengan cerita pertemuan pertama dengannya.

Hari itu baru belum genap dua minggu setelah saya pulang umroh di akhir bulan Januari 2020.

Saya baru membeli alas kaki buat si bungsu dan sedang berjalan menuju rumah. Tiba-tiba terdengar suara orang menjerit-jerit.

Ternyata, ada seekor anak kucing di tengah jalan. Begituuu dekat dengan ban sebuah mobil. Si sopir telat mengerem sedikiiit saja, anak kucing itu pasti sudah terlindas.

Tanpa berpikir lagi, saya berlari ke tengah jalan dan menyambar bocah bulu itu. Kecil sekali dia, sampai bisa dimasukkan ke saku jaket.

Sampai di rumah barulah saya memperhatikan bocah itu dengan saksama. Warnanya putih oranye dengan ekor panjang.

Mirip sekali dengan kitten yang saya beri makan di Mekah, juga dengan kucing yang mengikuti saya saat shalat Subuh di Jeddah. Tentang anabul di Mekah, jeddah, dan Madinah ini bisa dibaca di artikel Kucing-kucing di Tanah Suci.

Buncis Tapi Nggak Hijau

Kenangan bersama kucing
Buncis yang tidak hijau sedang diuap.

Nama “Buncis” diberikan oleh si sulung. Katanya, nama itu lucu, cocok untuk anabul satu ini.

Ketika Buncis datang, di rumah sudah ada tiga kucing. Bundel, Kitkat, dan Cingcing (sekarang semuanya sudah tidak ada).

Buncis yang kecil, kurus, kelaparan, dan ketakutan itu langsung diterima oleh mereka.

Nama “Buncis” sering membuat orang-orang tersenyum geli.

“Buncis? Tapi nggak ada hijau-hijaunya,” kata drh. Putri, vet yang menangani Buncis ketika pilek parah dan perlu dinebu.

“Buncis? Sayuran?” apoteker yang menerima resep tak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Mungkin di ruang obat di belakang sana ia tertawa terpingkal-pingkal.

Bulan Agustus 2020, di tengah masa pandemi, Buncis dan Bundel ikut steril bersubsidi.

Kucing Picky Eater

Hari-hari pertama di rumah, Buncis kecil melahap makanan apa saja yang ada. Dari ikan, nasi, sampai pisang goreng.

Kata drh. Topan Dewa, vet yang kemudian menjadi langganan geng anabul, kerakusan yang ditunjukkan Buncis itu nomal adanya.

Terlunta-lunta di jalan dan kelaparan berhari-hari membuat kucing jadi makan sebanyak-banyaknya. Hal itu karena mereka takut kalau-kalau nanti nggak ada makanan lagi.

Tahun demi tahun berlalu, Buncis yang dulu pemakan segalanya berubah menjadi picky eater

Ia suka makan pindang tongkol. Repotnya, hanya pindang tongkol dengan aroma tertentu yang ia mau. Kalau tidak sesuai, ia akan melengos pergi.

Tulang ayam? Hah, jangankan tulang ayam, daging ayam saja dia tidak doyan.

Vetnya sampai geleng-geleng kepala. “Anak sendiri saja kalau picky eater sudah bikin orangtuanya sakit kepala. Apalagi kucing. Waduuuhhh!”

Terkurung di Rumah Kosong

Buncis pernah tiga kali tidak pulang. Pertama kali hilang selama tiga hari. Ketika pulang, bobot tubuhnya menyusut banyak. Entah makan atau tidak ia di luar sana.

Suatu hari, Buncis hilang lagi. Selepas Subuh, kami mulai mencarinya. Memanggil-manggilnya. Sampai kemudian terdengar suaranya dari rumah sebelah yang sudah lama tak berpenghuni.

Jadilah pagi-pagi saya dan si sulung memanjat pagar rumah kosong itu untuk menjemput Buncis.

Tapi ternyata tak semudah itu. Pintu samping terkunci dan tergembok. Gemboknya saya tarik-tarik ke bawah. Kali aja bisa lepas, tapi sia-sia.

Letak jerujinya juga terlalu rapat sehingga Buncis tak bisa menyelinap di sela-selanya.

Di sini saya sudah mulai heran. Dari mana Buncis bisa masuk? Dia bukan pemanjat dan pelompat andal. Loncat dari lantai ke meja saja sering nggak pas.

Saya meminta si sulung menelepon pemilik rumah. Berharap si pemilik bisa datang dan membuka pintu

Ketika si sulung sedang menelepon, saya tertegun. Pintu berjeruji besi yang tadinya tergembok sekarang terbuka! Gemboknya terbuka, pintunya terbuka. Bagaimana bisa?

Buru-buru saya meraih Buncis dan kami berlari pulang. Tentu, manjat pagar lagi.

Sayang Buncis tak bisa bercerita, jadi kami cuma menebak-nebak. Tebakan yang sesungguhnya hanya untuk merasionalisasi hal tak masuk akal yang bikin merinding sebadan-badan.

Operasi Kecil

Operasi kecil pada kucing
Foto atas dan kiri bawah sebelum operasi. Foto kanan bawah ketika sedang operasi.

Tahun 2024 Buncis dua kali dilarikan ke vet. Pertama karena tiba-tiba ke luar banyak darah segar dari mulutnya. Darah berceceran di lantai ruang kerja saya.

Panik? Tentu saja. Untungnya drh. Topan sudah ada di klinik. Jadi, Buncis langsung dibawa ke sana.

Pendarahan itu ternyata karena ada giginya yang copot dan bukan pendarahan dari organ dalam. Case closed.

Beberapa bulan kemudian Buncis harus berobat ke vet lagi. Kali ini karena ada benjolan keras di perutnya. Ia tampak tak nyaman dan kesakitan. Ada bau menyengat dari badannya. Ia pun jadi sering tantrum.

Benjolan keras itu ternyata gumpalan nanah yang sudah mengeras dan mulai membusuk. Kata dokter, kemungkinan awalnya karena ada luka kecil di perutnya. Karena tidak ketahuan dan tidak diobati, lama-lama terinfeksi. Jadilah seperti itu.

Dokter memutuskan melakukan operasi kecil saat itu juga untuk mengeluarkan nanah tersebut.

Bergumpal-gumpal nanah dikeluarkan dari perutnya. Jauh lebih banyak daripada yang saya kira.

Selesai operasi kecil, Buncis bisa langsung dibawa pulang. Tak perlu opname, cukup rawat jalan di rumah saja.

Pemulihannya berjalan lancar. Buncis sehat lagi. Tantrumnya menghilang. Picky eater-nya sih masih.

Manjanya pun makin jadi. Kucing-kucing yang kubawa berobat ke dokter memang jadi lebih manja. Entahlah, mungkin itu cara mereka berterima kasih.

Baca Juga: Ketika Kucing Patah Kaki dan Cara Merawatnya

Buncis di Tahun 2026

Kucing oren
Foto ini adalah sebuah momentum, mengingat susahnya memotret kucing.

Memasuki tahun 2026 Buncis sakit lagi. Saya bawa lagi ke dokter. Dugaan dokter ada masalah di giginya. Mungkin ada gigi yang copot tapi akarnya masih tertinggal di dalam gusi, mungkin perlu scaling.

Untuk itu mesti ditangani di klinik yang lebih besar dengan fasilitas lebih lengkap. Di sana ada dokter yang akan menangani giginya. Perkiraan biayanya 1 juta rupiah.

Tapi belum cukup itu. Dokter juga curiga ada penyakit dalam, sehingga membutuhkan pemeriksaan darah.

Saya terdiam. Sejak akhir 2025 kondisi ekonomi saya tidak baik-baik saja. Akhir 2025 juga anabul yang lain, namanya Pontang, menjalani rawat inap selama 9 hari karena diare berat. Habis jutaan rupiah ketika itu.

Setelah Idul Fitri, kondisi Buncis semakin menurun dan tubuhnya semakin kurus. Meski begitu, ia masih suka berjemur di pagar.

Ia juga masih suka mengganggu ketika saya makan. Mau saya makan ayam goreng atau sayuran rebus, dia tetap melongok ke piring saya. Doyan nggak doyan, yang penting ngerusuh.

Ujung-ujungnya, dia minta pangku dan tidur di pangkuan.

Tangkapan Pertama

Tanggal 6 Juni, kucing-kucing di rumah jadi heboh karena ada tikus nyasar. Sepertinya tikus itu masuk dari pintu dapur yang menghadap ke gang mati di belakang rumah. Kalau siang pintu itu memang biasa dibuka agar udara segar masuk. Eh, malah ada tikus ikut masuk.

Ninja Oren yang paling semangat berburu, dibantu dua remaja kucing lainnya. Kucing-kucing dewasa cuma mengamati kesibukan tiga bocah, atau malah tidur.

Tikus itu tak juga tertangkap tapi pasti stres karena dikejar-kejar terus.

Tanggal 8 Juni barulah tikus itu tertangkap. Yang menangkapnya adalah ... Buncis! Tikus yang sudah lemas itu saya ambil dan buang.

Selama 6,5 tahun tinggal di rumah, itulah pertama kalinya Buncis menangkap tikus. Biasanya ada tikus lewat pun dia tak peduli. “Apaan sih nangkap tikus! Jijik!” mungkin begitu anggapannya.

Kejadian pertama itu ternyata menjadi satu-satunya.

Run Free, Buncis

Kucing bukan sekadar hewan peliharaan
Quality time bersama Buncis.

Tanggal 9 Juni, Buncis tak mau makan. Disodori ikan pindang tongkol kesukaannya, mengendusnya pun tak mau. Begitu juga ketika disodori wet food.

Keesokan harinya, 10 Juni, barulah ia mau makan secuil ikan pindang. Benar-benar hanya secuil. Hanya seujung kuku. Setelah itu ia kembali tutup mulut.

Siang hari di tanggal 10 itu ia ke gang di belakang dapur untuk berjemur. Tidak sendirian, tapi dengan beberapa kucing lain.

Tak lama setelah azan Ashar, ia masuk ke rumah dengan tubuh basah kuyup. Basah kuyup pada hari yang terik di musim kemarau?

Saya tak sempat menduga-duga, juga tak mencari penyebabnya. Ada yang lebih penting: mengeringkan Buncis dan membuatnya tetap hangat.

Nasihat dokter Topan setiap kali saya membawa anabul ke sana, terngiang-ngiang. “Jangan dimandikan dulu. Kalau lagi sakit begini dimandikan, pasti akan lewat.”

Tapi ini Buncis bukan dimandikan. Ia kebanjur oleh-entah-siapa sampai basah kuyup sekujur badannya.

Setelah air tidak menetes lagi dari tubuhnya, Buncis masih saya peluk sekitar satu jam. Setelah itu, saya siapkan kardus beralas handuk tebal dan lampu kuning untuk menghangatkan.

Melihat kardus itu, Buncis langsung masuk sendiri dan mencari posisi yang paling nyaman

Malam itu saya tidur di lantai, di dekat kardus Buncis. Berkali-kali terbangun untuk memeriksa kondisinya. Ia masih tidur. Masih terlihat gerak napasnya pelan.

Saya tahu, nasihat dokter benar. Buncis tidak akan bertahan. Suka tidak suka, saya harus bersiap ditinggal mati kucing kesayangan.

Sebelum Subuh saya memesan pot besar dan satu karung tanah di toko langganan di Shopee. Biasanya saya berbelanja di sana untuk kebutuhan kebun mini di rooftop. Kali ini untuk persiapan penguburan.

Pagi itu, selesai masak, mandi, menyiram tanaman, dan memberi makan kucing-kucing lain, saya habiskan waktu di dekat kardus Buncis. Mengelus kepala dan punggungnya.

Mengucapkan terima kasih karena Buncis sudah jadi kucing kesayangan yang memberi banyak kegembiraan selama 6,5 tahun ini. Mengatakan sayang padanya. Mengatakan ikhlas kalau Buncis mau pergi.

Dan minta maaf karena tidak sanggup memberinya perawatan yang disarankan oleh dokter. Saya menangis. 

Bagi saya kucing bukan sekadar hewan peliharaan. 
Saya teringat tahun-tahun Buncis suka menatap saya dengan fokus lalu mengerjap perlahan. Yang pernah saya baca, itu pertanda kucing percaya sepenuhnya pada hooman-nya.

Tanggal 11 Juli 2026 pukul 10.40, lampu penghangat saya matikan. Buncis sudah pergi lima menit sebelumnya. Selepas Zuhur, Buncis saya kuburkan dalam pot besar di balkon. 
Run free, Buncis. 

Sekarang Buncis sudah tidak sakit lagi. Setiap pagi saya berkunjung ke rumah barunya, sekalian mengurus tanaman.

Beberapa kucing kesayangan lainnya sering ikut dan berjemur di sekitar rumah baru Buncis. Mereka pasti paham, Kak Buncis mereka sudah tak bisa lagi bermain bersama mereka.

Saya sering termenung di sana. Sedih kehilangan kucing peliharaan ini masih terasa menyesak di dada.

Masih terbayang di mata saya saat-saat terakhir Buncis. Kucing yang tak dihisab saja begitu lama dan berat sakaratul mautnya. Bagaimana dengan saya, manusia yang banyak dosa ini?

Tidak ada komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.