23 February 2015

Tips Menulis Untuk Ibu-Ibu

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah sesuatu yang "hanya". Pekerjaan dan tanggung jawabnya luar biasa. Jam kerjanya bahkan melebihi jam kerja pegawai kantoran. Namun, tak sedikit ibu rumah tangga yang ingin berkarya melalui tulisan. Motivasinya beragam. Ada yang ingin membantu menambah penghasilan keluarga, eksistensi, terpengaruh teman, dan sebagainya. Masalahnya, urusan rumah tangga seperti tak ada habisnya.

Saya lumayan sering dapat pertanyaan seperti ini, "Mbak kok masih bisa produktif nulis, sih, padahal kan mesti ngurus keluarga juga?"

Jawaban saya standar aja, "Namanya juga orang cari nafkah. Ya bisa, dong. Kalau nggak bisa, ntar nggak bisa makan." Hahaha... jawaban yang nyebelin, ya?

Ada juga yang bilang gini, "Mbak, minta tips menulis untuk ibu-ibu dong. Pengen nulis kayak Mbak nih, tapi udah rempong sama urusan keluarga."

Baiklah, kita lihat dulu kondisinya seperti apa. Saya single parent dengan dua anak, empat kucing, dan tanpa asisten rumah tangga (ART). Saya bekerja sebagai editor lepas dan penulis yang juga lepas. Nah, karena ini pekerjaan, jadi ya mesti bisa nulis.

Kapan Waktu Untuk Menulis?


Ketika bekerja sebagai penulis di sebuah web, saya membuat pengaturan sendiri seperti ini.
  • Pukul 01.00 - 06.00 (dipotong waktu shalat) --> menulis fiksi.
  • Siang - sore --> menulis artikel untuk web tempat saya bekerja.
Pembagian waktu seperti ini karena untuk menulis fiksi (cerpen, novel) saya membutuhkan penjiwaan dan ketenangan. Itu hanya bisa saya dapatkan ketika anak-anak sedang tidur. Untuk menulis artikel, saya masih bisa berkonsentrasi meskipun anak-anak sedang main perang-perangan dan jerit-jeritan di sekitar saya.

Sekitar satu tahun bekerja sebagai penulis di web, saya pindah pekerjaan. Kali ini menjadi editor lepas. Pekerjaan ini yang saya tekuni sampai sekarang. Pembagian waktunya hampir sama, malah lebih fleksibel karena tidak ada target menyetor artikel tiap hari.

Karena masalah kesehatan (saya sakit tifus akhir Desember 2013 dan awal Februari 2014), sekarang saya baru mulai bekerja pukul 03.00 atau 03.30. Sekitar pukul 05.30 sampai 08.30 adalah waktu-waktu hectic di rumah dan tidak efektif untuk memegang laptop. Oya, saya juga beristirahat di siang hari dan sudah mengakhiri waktu kerja saya sekitar pukul 18.00. Bergadang sudah saya coret dari keseharian saya. Saya lebih memilih sehat. :)



Bekerja di Mana Saja

Sekarang sebenarnya lebih enak karena si bungsu sudah kelas 2 SD dan nggak perlu saya tunggu di sekolah. Jadi, ketika anak-anak sedang bersekolah, saya bisa tenang mengedit atau menulis (lebih banyaknya, sih, mengedit).

Ketika si bungsu masih TK dan kelas 1 (semester 1), saya biasa membawa pekerjaan ke sekolah. Jadi, sambil menunggu saya bisa bekerja. Mengedit, tawar-menawar dengan calon klien, menulis (saya memilih pakai blocknote saja supaya lebih simpel), atau membahas a-b-c dengan editor.

Naskah tentang manajemen pariwisata ini saya edit di kantin sekolah anak saya :)
Bolpoin merah, sebuah buku editing, sebuah buku pintar, dan ponsel menjadi bekal saya.
Ketika ibu-ibu lain bergosip, saya kencan dengan strategi pariwisata, branding, dsb.

Satu cerita dalam Genk Kompor 2 saya tulis di blocknote ini sambil menunggu anak di sekolah.
Mengecek buku Genk Kompor 1 yang akan cetak ulang pun saya lakukan di kantin SD.
Beberapa puisi dan kalimat dalam novel It's Not A Dream ini saya tulis di ponsel
ketika menunggu si bungsu di TK. Ketika itu belum terbayang akan menjadikannya novel.


Untung ruginya membawa pekerjaan ke sekolah? Untungnya, bisa memanfaatkan waktu menunggu anak dengan hal positif dan tidak terbawa arus ibu-ibu gosip. Ruginya, hm... siap aja, deh, kalau dijadikan bahan gosip dan dikomentari macam-macam.

Sejak semester 2 kelas 1 SD, si bungsu sudah berani sendiri. Saya pun lebih leluasa mengatur waktu. Di rumah ada ruang khusus untuk tempat kerja saya. Ruang kerja ini mengondisikan saya untuk bekerja. Well, bekerja lepas dari rumah bukan berarti bisa sesuka hati dan tak mengenal disiplin, kan?

Oya, satu lagi. Saya selalu membawa bolpoin, blocknote atau beberapa lembar kertas, dan ponsel kalau pergi-pergi beberapa jam dari rumah. Dengan begitu, saya bisa menangkap ide yang muncul sewaktu-waktu.

Semula, sih, ruang di bawah tangga ini gudang tapi kemudian diubah
menjadi ruang kerja saya. Small office home office :)

Gimana Dengan Urusan Rumah?

Saya bukan ibu yang suka ribet dan meribetkan diri dengan urusan rumah. Pakai skala prioritas saja. Kalau saya beribet-ribet begitu, kapan saya bekerja untuk mencari nafkah? Ini gambarannya.
  • Mencuci pakaian hanya dua kali dalam seminggu. Rabu dan Minggu. Rabu saya yang mencuci (tinggal masukkan ke mesin cuci, kan? :D). Minggu, para ABG (seorang keponakan tinggal bersama saya) yang mencuci. Tentang ini pernah saya tulis di buku Ordinary Mom.
  • Menyapu tiap hari, biasanya ketika anak-anak sudah berangkat sekolah.  
  • Mengepel juga dua kali seminggu, kecuali jika sangat kotor (dan itu jarang, sih).
  • Menyetrika... hanya kalau dapat hidayah. Hehehe.... Anak-anak yang sudah ABG menyetrika pakaian mereka sendiri.
  • Mencuci piring, saya buat jadwal untuk kedua ABG.
  • Berbelanja bahan makanan biasanya dua kali seminggu (Rabu dan Sabtu atau Minggu). 
  • Memasak yang praktis-praktis ajalah. Tumisan segala macam, ayam goreng, ikan goreng, sop, dan sejenis itu. Kalau sedang dapat hidayah, dalam satu hari saya mengolah beberapa macam masakan yang bisa awet untuk beberapa hari, misalnya rolade, nugget, atau ayam ungkep. Kalau kepepet, di depan kompleks ada warteg, warung bakso, warung Padang, dan sebagainya, kok. #Kalem :D

Itu kondisi saya. Ibu-ibu yang secara ekonomi lebih mapan, ibu-ibu yang didukung penuh oleh suami, ibu-ibu yang punya ART untuk meringankan pekerjaan rumah tangga, masa sih nggak bisa meluangkan waktu untuk menulis? Coba, deh, Bu. It's Not A Dream!


Tip

Dari cerita saya di atas, pasti sudah bisa mendapat gambaran tentang gimana saya membagi waktu sehingga masih bisa menulis meskipun sibuk dengan urusan rumah.

Poin pentingnya, sih:
  • Kenali tujuan kita menulis. Apakah untuk mencari nafkah, mengisi waktu senggang, atau yang lainnya.
  • Buat skala prioritas. Kerjakan yang paling penting lebih dahulu.
  • Manajemen waktu. Kita nggak mungkin mengerjakan semua hal sekaligus pada waktu yang bersamaan, kan?
  • Disiplin. 
  • Menjadi diri sendiri. Jam kerja dan lingkungan kerja yang cocok bagi saya, belum tentu cocok bagi orang lain. Kita sendiri yang paling tahu apa yang nyaman bagi diri kita.
  • Jika sudah mencoba berbagai cara tetapi masih merasa berat, padahal tetap berhasrat menulis, coba niatkan untuk ibadah. Memanfaatkan dan mempertanggungjawabkan bakat dan kesempatan yang diberikan Allah pada kita.
Udah, itu aja. Ibu-ibu menulis sama aja, kok, dengan mahasiswa menulis (yang harus membagi waktu dengan kuliah, bikin tugas, penelitian, dsb. Saya mengalami ini pada tahun 1993-1998 awal), wanita karier menulis (yang harus membagi waktu dengan pekerjaan di kantor, rapat dengan bos, bikin laporan bulanan, dsb. Saya mengalami ini pada tahun 1998-2002), dokter menulis, bankir menulis, dan sebagainya.

Jadi gimana, Ibu-ibu? Sudah siap menulis? Atau mau mengundang saya untuk sharing tentang menulis? Silakan hubungi saya. *kedipcantik*



Baca Juga
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...