24 July 2016

Penulis dan Gaya Hidup Sedentari



Penulis dan Gaya Hidup SedentariPenulis dan Gaya Hidup Sedentari Deadline. Satu kata ini sepertinya sudah menjadi teman akrab bagi para penulis. Terutama bagi penulis yang sedang mengerjakan suatu proyek, pekerjaan, atau mengikuti lomba menulis. 

Bagi sebagian penulis, deadline justru menjadi daya tarik tersendiri. Memesona dan memacu adrenalin. Bagi saya sendiri, adanya deadline itu merupakan cara mendisiplinkan diri. Patuhi deadline atau kesempatan emas terlepas. Ikuti deadline atau kehilangan kepercayaan dari klien.

Amunisi Menghadapi Deadline

Kalau sudah begini, butuh amunisi dong untuk menghadapi deadline. Amunisi itu berupa kopi dan ekstra camilan. Ekstra camilan?

Iyesss. Pada hari-hari normal saja saya baru bisa berpikir lancar kalau sambil ngemil. Apalagi pada hari-hari hectic menjelang deadline. Simpelnya, saya butuh kopi dan camilan untuk menjaga agar otak dan mata tetap terjaga. Agar saya bisa duduk tenang di depan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Baca Juga: Deadline Lomba

Camilan itu rupa-rupa jenisnya. Keripik (oooh, di dekat rumah saya ada dua toko yang khusus menjual beraneka keripik dan camilan kriuk-kriuk lainnya), biskuit, wafer, jajan pasar, dan buah-buahan. Terlihat menggiurkan atau malah … mengerikan? Hehehe ….

Saya beruntung, tubuh saya tidak gampang melar. Body Mass Index (BMI) saya pun masih tergolong normal.

Penulis dan Gaya Hidup Sedentari
Hasil penghitungan BMI saya. Kamu juga bisa kok cek BMI
di http://www.lighthouse-indonesia.com/
 
Eits…. Yakiiiin … badan tidak gampang melar?

Eh, emh … baiklah. Camilan-camilan itu biasanya membuat pipi dan perut saya menjadi sedikit lebih chubby daripada biasanya. BMI normal tapi perut chubby. Astaga … menyedihkan banget!

Rekor tergila saya dalam tiga tahun terakhir ini adalah hanya tidur dua jam dalam waktu 48 jam demi mengejar deadline penulisan sebuah buku pengayaaan. Hampir sepanjang hari saya duduk di depan meja kerja, berkutat dengan laptop dan buku-buku referensi.

Saya hanya meninggalkan meja kerja untuk ke kamar mandi, shalat, serta mengambil makanan dan minuman. Tidur? Yeah, saya bahkan tertidur dalam posisi duduk dengan laptop sebagai bantal.

Setelah badai deadline itu berlalu, barulah sakit-sakit di punggung, bahu, kaki, dan kepala terasa.

 
Penulis dan Gaya Hidup Sedentari
Dear writers, merasa akrab dengan perilaku sedentari ini? :)

 

Gaya Hidup Sedentari

Belakangan barulah saya tahu bahwa yang saya lakukan selama ini adalah sedentari. Namanya memang cantik, tetapi sedentari ini termasuk gaya hidup yang tidak sehat. 

Dalam talkshow yang diadakan oleh LightHOUSE Indonesia pada bulan Mei 2016, dr. Sophia Benedicta Hage, Sp.KO menyebutkan bahwa sedentari adalah segala aktivitas yang dilakukan di luar waktu tidur dan mengeluarkan energi yang sangat sedikit. Misalnya posisi duduk dan berbaring.

Mager alias malas gerak?

Hm … ternyata tidak selalu karena mager. Memang, sih, mager juga termasuk perilaku sedentari, seperti juga duduk santai menonton TV, membaca buku sambil ngemil, dan chatting sambil tidur-tiduran. Bukan  cuma 10-5 menit, melainkan sampai berjam-jam.

Namun, ada juga perilaku sedentari yang bukan dalam rangka leyeh-leyeh. Misalnya berjam-jam duduk dalam perjalanan ke luar kota, terjebak macet di dalam kota saat traffic jam, atau bekerja seharian dalam posisi duduk. Seperti  saya. Saya bisa duduk berjam-jam sehari, lebih-lebih ketika deadline sudah di depan mata.

Dampak Sedentari pada Kesehatan

Berjam-jam dalam posisi duduk atau tiduran tentu tidak baik bagi kesehatan. Yang sering saya rasakan adalah pegal-pegal di punggung dan bahu, serta sakit kepala. 

Namun, ternyata dampak sedentari ini lebih mengerikan daripada sekadar pegal-pegal. dr. Sophia Benedicta Hage, Sp.KO menyebutkan bahwa gaya hidup sedentari ini bisa mengakibatkan penyakit kardiovaskuler, diabetes, sindroma metabolik, dan obesitas. Duh, seram banget!

Tapi bagaimana jika aktivitas sedentari itu tidak bisa dihindari karena merupakan bagian dari pekerjaan?

Penulis dan Gaya Hidup Sedentari
Bukan mager tapi tetap saja merupakan perilaku sedentari.


Minimalkan Risiko Sedentari

Untuk meminimalkan risiko yang ditimbulkan dari perilaku sedentari, dr. Sophia Benedicta Hage, Sp.KO menganjurkan kita melakukan cara berikut.

  • Mengurangi frekuensi sedentari.
  • Mengurangi durasi waktu duduk.
  • Bangkit berdiri sekitar lima menit setelah duduk selama 1-2 jam.
  • Mengurangi jenis aktivitas sedentari.
Lebih lanjut, dokter spesialis kedokteran olahraga lulusan Universitas Indonesia ini menyarankan agar kita membiasakan diri untuk berjalan kaki.

Ahaha, jadi ingat cerita teman saya ketika kami meeting di Jakarta pekan lalu. Dari kantornya di kawasan Kebon Sirih, ia dan rekan-rekannya kerap berjalan kaki sejauh sekitar 300 meter ke Sarinah untuk makan siang.

Gerak fisik sederhana begini ternyata bisa membantu mencegah obesitas dan gangguan kesehatan lainnya akibat sedentari.

Jika Sudah Telanjur Kelebihan Berat Badan

Bagaimana jika sudah telanjur kelebihan berat badan, apalagi jika sampai obesitas?

Tentu saja tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Obesitas bukan hanya membuat kita kesulitan membeli baju dengan ukuran yang sesuai, melainkan juga bisa mengundang banyak penyakit mematikan.

Jika berat badan sudah telanjur melesat di atas normal, sebaiknya mengikuti program pengurangan berat badan. Tujuannya adalah mencapai berat badan ideal dan terhindar dari berbagai penyakit.
Eh, tunggu! Jangan asal-asalan berdiet untuk mengurangi berat badan. Diet asal-asalan mungkin bisa membuat kita terlihat lebih kurus. Sayangnya, diet asal-asalan juga bisa mengundang berbagai penyakit seperti maag, diabetes, sakit kepala, dan osteoporosis.

Agar program penurunan berat badan ini berhasil dengan baik, lakukan di bawah pengawasan ahlinya, misalnya yang dilakukan di LightHOUSE Indonesia.

Penulis dan Gaya Hidup Sedentari
Klinik LightHOUSE Indonesia (foto diambil dari Youtube LightHOUSE Indonesia)


LightHOUSE Indonesia merupakan klinik penurunan berat badan yang telah tepercaya dan teruji selama lebih dari 11 tahun. Klinik ini memiliki berbagai keunggulan yang membuatnya pantas dilirik untuk membantu kita mencapai berat badan ideal. Salah satunya adalah karena memiliki program yang komprehensif dengan melibatkan dokter, ahli gizi, psikolog, dan terapis olahraga.

Penurunan Berat Badan di LightHOUSE

Ada beberapa paket penurunan berat badan yang bisa dipilih di LightHOUSE Indonesia.

Program penurunan berat badan LightHOUSE Indonesia.
Program penurunan berat badan di LightHOUSE Indonesia.


Merasa asing dengan istilah-istilah di atas? Hehehe ….. Injex dan mesoterapi adalah terapi penunjang yang merupakan andalan klinik LightHOUSE Indonesia. Sementara itu, terapi meta booster membuat injex dan mesoterapi bekerja lebih efektif dalam membakar lemak. 

Kalau lymphatic drainage? Well, pembuluh limfatik dalam tubuh kita berperan penting dalam metabolisme lemak. Terapi lymphatic drainage berguna untuk membebaskan aliran lemak dalam pembuluh limfatik agar proses pembakarannya menjadi lebih cepat.

Hebatnya, di klinik LightHOUSE ini ada tes DNA. Fungsinya untuk mengecek apakah ada mutasi gen dalam tubuh seseorang yang membuatnya cepat gemuk atau sulit langsing.

Dengan tes DNA ini bisa diketahui diet yang cocok untuk orang tersebut, bagaimana respons tubuhnya terhadap makanan, sistem penyimpanan lemak dalam tubuhnya, kemampuan tubuhnya dalam menyerap lemak, serta kecenderungan kenaikan berat badannya.

Oya, LightHOUSE Indonesia juga punya program khusus untuk anak-anak (LightKIDS), remaja, (LightTEEN), serta ibu hamil dan menyusui (lightMOM).Yes, obesitas pun bisa dialami oleh anak-anak dan remaja.

Aktif dan Tetap Sehat

Kesehatan adalah investasi yang sangat berharga. Harta sebanyak apa pun menjadi tak berharga jika tubuh digerogoti penyakit. Salah satu cara agar tetap sehat adalah dengan menjaga berat badan dalam kondisi ideal.
Dikejar deadline pekerjaan bukan alasan untuk tidak melakukan aktivitas fisik. Sekadar berjalan-jalan di sekitar ruang kerja atau bersenam ringan. Camilan sebisa mungkin diganti dengan camilan sehat yang tidak mengancam berat badan. Begadang pun kalau tak ada gunanya ya tak usah dilakukan. Bukankah begitu, Kak Oma?

Kalau tubuh sehat, ide-ide pun akan mengalir lancar. Yuk tetap kreatif, aktif bergerak, dan sehat tanpa obesitas.

***

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...