05 December 2016

Donasi Buku, Aksi Damai Para Pencinta Buku



Donasi Buku, Aksi Damai Para Pencinta Buku −  Gerakan donasi buku ini berawal dari event Gramedia Big Sale. Kota saya, Bandung, menjadi satu dari lima kota yang menggelar event besar-besaran ini. Bukan di toko, melainkan langsung di gudang penerbit.

Bagi saya ini dilematis. Senang dan sedih sekaligus. Sebagai penikmat buku saya senang bisa membeli banyak buku bagus dengan budget tipis. Di sisi lain, sebagai penulis buku ada rasa sedih yang tak bisa saya tepis.


Rasa sedih itu muncul karena saya sudah mendapat informasi dari editor saya bahwa jika buku yang diobral besar-besaran ini tak juga habis, maka akan dijadikan bubur kertas, diolah menjadi kertas baru (tapi bukan kertas untuk mencetak buku baru).

Sedih…lalu demo atau mogok nulis? Yaela. Saya mogok nulis mah nggak akan ngefek ke mana-mana, kecuali ke saldo tabungan saya. Jadi, saya pilih melakukan aksi damai saja.

Karena saya penulis, saya menuliskan perasaan saya, pemikiran saya, harapan saya… disandingkan dengan fakta dan data yang ada.

Galang Donasi

Beberapa orang menghubungi ke inbox Facebook saya. Meminta nomor rekening saya untuk donasi buku. Sebagian saya kenal secara pribadi. Sebagian lagi sama sekali belum saya kenal.

“Ada minimal nyumbang berapa nggak, Teh?” tanya seseorang.

Saya tersenyum. Nggak ada. Silakan menyumbang seikhlasnya. Berapa pun saya terima dengan tangan terbuka. Yang menurut kita sedikit bisa jadi sangat besar manfaatnya bagi orang lain. Dana sedikit dari si A, dari si B, si C…. kalau dikumpulkan jadi banyak juga. 

donasi-buku
Buku-buku yang sedang diproses untuk didonasikan.

Akhirnya terkumpul dana donasi buku sebesar Rp 8.445.001,- Semuanya dari individu yang mengikhlaskan sebagian rezekinya untuk sesama. Tidak ada kaitan dengan partai politik tertentu atau agama tertentu.

Hehe… sampai perlu saya perjelas begini. Soalnya ada kejadian sebuah komunitas tidak mau menerima donasi buku ini karena khawatir berasal dari partai politik tertentu.

Berikut daftar nama para donatur (inisial aja, ya).

donasi-buku
Daftar donatur.




Dengan dana itu saya mondar-mandir membeli buku bagus murah meriah di Gudang Gramedia, Jalan Caringin Nomor 74 Bandung.

Iya, saya bolak-balik ke sana karena  ada akang-akang bening satu kali datang saja tidak mungkin untuk membeli buku sejumlah donasi yang masuk ke saya. Apalagi saya juga mencari buku titipan teman-teman. 

Situasi di gudang big sale bisa dilihat di sini.

Donasi Buku

Untuk penerima donasi buku, saya menetapkan kriteria berikut:
  • Panti asuhan.
  • Rumah baca / taman baca masyarakat.
  • Perpustakaan sekolah yang bukan dari kelas ekonomi menengah atas.
Tidak semua yang mengajukan permohonan donasi buku tersebut saya penuhi. Ada beberapa yang terpaksa saya tolak karena hal-hal berikut ini.
  • Sekolah atau komunitas yang mengajukan permohonan donasi tergolong mampu.
  • Hanya mau menerima buku-buku bermuatan agama Islam (fikih, sejarah Islam, dan sebagainya). Tidak sesuai dengan jenis buku yang tersedia.
  • Kriteria sesuai tapi dana donasi sudah habis.
  • Informasi tidak lengkap dan susah dihubungi.

Berikut ini daftar penerima donasi buku. 

 donasi-buku
donasi-buku
Daftar penerima donasi buku.

Jumlah donasi buku yang diterima berbeda-beda karena memperhitungkan berat total dan ongkos kirim. Selain itu ada juga donatur yang secara spesifik menyumbang untuk sekolah atau panti asuhan tertentu.

Untuk pengiriman paket donasi ini, saya paling banyak menggunakan jasa JNT. Pertimbangan saya, JNT menyediakan jasa jemput paket ke rumah.
Saya sendiri terus terang nggak sanggup mengangkut paket-paket senilai total 30-40 kg sekali kirim itu ke agen ekspedisi lain. Duh, saya tidak secantik perkasa itu, Kakaaak :D

Senyum Ceria Mereka

Saya sering terharu ketika membaca cerita bapak ibu guru tentang kondisi perpustakaan dan minat baca di sekolah mereka. Ada murid-murid kelas 4-5 SD yang belum lancar membaca. Ada sekolah yang koleksi perpustakaannya hanya buku-buku terbitan tahun 1980an dan 1990an.

Untuk panti asuhan yatim dan dhuafa, kebanyakan bukan mereka yang mengajukan. Teman-teman di berbagai kotalah yang memberi rekomendasi. 

Dan…well, inilah senyum cerah dan antusiasme mereka ketika buku-buku dari para donatur telah mereka terima. Terima kasih sudah berkenan menerima buku-buku ini. Btw, buku-bukunya dibaca ya, Adek-adeeek. Sampai lecek juga nggak apa-apa, kalau karena sering dibaca.

donasi-buku
Asrama Yatim dan Dhuafa, Cileungsi, Bogor.
donasi-buku
Panti Asuhan Mitra Muslim, Bandung.

donasi-buku
Panti Asuhan Mizan Amanah, Cimahi.
donasi-buku
Rumah Baca Masyarakat Jatibening, Bekasi. Sebagian besar pengunjungnya
adalah anak-anak keluarga dhuafa dan putus sekolah.

donasi-buku
Rumah Baca Islahul Ummah, Cianjur.

donasi-buku
Rumah Baca Sang Petualang, Wonogiri.

Terima Kasih Banyak

Terima kasih banyak pada Teman-teman yang ikhlas membagikan rezeki halalnya pada saudara-saudara kita, pada adik-adik kita.

Terima kasih sudah percaya pada saya untuk menyalurkan dana tersebut. Semoga Allah membalas kebaikan Teman-teman dengan curahan rahmat dan kasih sayang-Nya, membuka lebar pintu-pintu rezeki halal, memberi kemudahan di setiap kesulitan yang sedang dihadapi.

Ada titipan terima kasih dan untaian doa dari adik-adik di panti asuhan dan rumah yatim, dari para bapak dan ibu guru, dari anak-anak kita di berbagai daerah, dari saudara-saudara kita berbagai pelosok negeri.

Last but not least, terima kasih untuk Kang Cecep dari J&T yang sudah berat-berat mengangkut paket dari rumah saya sampai motornya oleng. Yang menolak ketika saya akan memberikan donasi buku untuk PAUD-dengan-bayaran-seikhlasnya yang dikelola istrinya di sebuah kampung di Tanjungsari.

“Nggak usah, Ibu. Alhamdulillah kemarin kami sudah dapat bantuan. Insya Allah nanti saya carikan tempat lain yang lebih membutuhkan.”

Kalimat berikutnya membuat saya semakin speechless. “Ibu, saya mau ikut berdonasi. Gimana caranya, Bu?” Duh. Kalau Allah sudah mengetuk pintu hati, siapa yang bisa mencegah?

Terima kasih juga untuk Kang Hilman dari Gramedia yang banyak banget ngebantu saya selama big sale (dari jadi narasumber sampai ngebantu ngangkatin belanjaan saya :D), temen ngobrol yang seru dan nyambung  (udah, fotonya nggak dipejeng lagi biar dia nggak dicieee-cieeein melulu sama customer, bahkan sampai diajak casting. Katanya dia nggak pengen ngetop, sih. *sungkem* :D). Yang bertanya di antara tumpukan buku, “Selesai big sale ini, mau terus ngurus donasi buku atau gimana, Mbak?” 

Saya tidak berpikir sejauh itu. Saya cuma terpikir untuk sebisa mungkin menyelamatkan buku-buku obralan itu dari pembuburan. 

Saya sendiri nggak berharap big sale seperti ini akan sering-sering digelar. Bagi penulis buku, obral buku berarti matinya aliran royalti yang merupakan sumber nafkah. 


Kalau kata Mbak Linda Razad, editor senior di Elex Media Komputindo, obral buku adalah pertanda dunia literasi sedang dalam kondisi memprihatinkan.

Tapi setelah mikir berhari-hari saya putuskan akan tetap mengurus donasi buku. Ya, daripada pasrah melihat buku-buku itu dimusnahkan, lebih baik melakukan aksi damai menggalang dana untuk mendonasikan buku-buku itu. Sambil berdoa semoga dunia literasi kita membaik. Semoga besok-besok para penikmat buku tak lagi menunggu obral untuk membeli buku.


 
donasi-buku
TBM Hegarmanah, Garut.
donasi-buku
SMPIT Misykat Al-Anwar, Jember.
Buku-buku bacaan di sana masih terbitan tahun 1980 dan1990an :(

donasi-buku
PAUD Anak Sholeh, Bima, NTB.

donasi-buku
SDN Tameng 2 Giriwoyo, Wonogiri.

 
donasi-buku
MI Maarif, Muntilan.

donasi-buku
Book on Wheels (BOW) Tulungagung. BOW ini mendatangi dan meminjamkan buku
untuk anak-anak di tiga sekolah pelosok secara bergiliran.

donasi-buku
Yayasan Cinta Baca, Bogor. Yayasan ini meminjamkan buku-buku bacaan
untuk anak-anak kurang mampu dan mendirikan pos-pos baca di desa-desa.



Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com


Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...