Budaya Sensor Mandiri Bentuk Kepedulian Orangtua pada Anak

budaya sensor mandiri

“Film seperti ini kok bisa lolos sensor? Film begini merusak moral anak-anak! Mau dibawa ke mana anak-anak kita kalau dikasih tontonan seperti itu?”

Beberapa waktu lalu saya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika banyak orangtua memprotes film ini dan itu, sinetron ini dan itu. 

Ah, bukannya saya setuju pada tayangan berisi pergaulan bebas, kekerasan, dan hedonis yang merusak moral. 

Tidak, saya tidak setuju dengan tayangan seperti itu. Yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah karena sebagian yang memprotes itu tidak melihat situasinya terlebih dahulu.

“Anak saya yang kecil jadi penakut setelah nonton Conjuring. Gimana sih, kok film yang begitu boleh diputar di bioskop? Nakut-nakutin anak balita aja!”

Melihat ada yang salah di sini? Yang bikin saya geleng-geleng kepala?

Yup. Conjuring bukan film untuk anak balita. Kalau saja si ibu tersebut menerapkan budaya sensor mandiri, tentu tak perlu ada kejadian anak balitanya menjadi penakut setelah menonton film. 

Sayangnya, si ibu justru mengajak anak kecilnya itu menonton film yang bukan untuk usianya.

Mengenal Budaya Sensor Mandiri

Apa itu budaya sensor mandiri? Bukankah sudah ada Lembaga Sensor Film (LSF) yang berkewajiban menyensor film-film yang akan ditayangkan di bioskop dan TV? Kenapa perlu ada budaya sensor mandiri  dalam keluarega sendiri?

Dalam roadblog di Bandung tanggal 14 Mei 2015, Dody Budiatman dari LSF RI menyebutkan bahwa budaya sensor mandiri adalah sensor yang dilakukan oleh masyarakat. 

Dody Budiatman
Wakil Ketua LSF, Dody Budiatman, mengingatkan pentingnya membangun budaya sensor mandiri.


LSF tentu saja tetap melakukan penyensoran terhadap materi tontonan yang akan dikonsumsi oleh publik. Unsur kekerasan, perjudian, narkoba, pornografi, pelecehan terhadap suatu agama, dan pertentangan antarsuku atau SARA akan digunting oleh LSF.

Dalam kesempatan berbeda, Ahmad Yani Basuki mengatakan bahwa kategori tayangan telah ditentukan oleh LSF. Ada yang untuk dewasa, ada yang untuk anak-anak, ada pula yang diperuntukkan bagi remaja.

Ketua LSF ini mengingatkan bahwa setelah sebuah tayangan lolos dari sensor LSF, masyarakatlah yang harus melakukan sensor secara mandiri pada tayangan di bioskop dan di televisi. 1)

Melakukan sensor mandiri ini bukan dengan cara menggrebek apalagi melakukan tindakan anarkis pada bioskop atau stasiun TV yang menayangkan film. 

Sensor mandiri ini berupa perilaku selektif dalam memilih film atau tayangan yang akan ditonton. Lalu, siapa saja yang diharapkan berperan aktif melakukan sensor mandiri? 

Wakil Ketua LSF Dody Budiatman dalam roadblog di Bandung menyebutkan tiga komponen yang harus aktif menyensor tayangan secara mandiri.


1.   Masyarakat perfilman.

Masyarakat perfilman diharapkan membuat film sesuai dengan undang-undang yang ada. Jangan membuat tontonan yang membenturkan konflik-konflik sehingga menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.


2.   Masyarakat penonton.

Termasuk masyarakat penonton dalam budaya sensor mandiri ini adalah orangtua dan institusi pendidikan. Orangtua yang memperhatikan klasifikasi film tentu tidak akan membawa anak-anak menonton film yang bukan untuk konsumsi mereka.


3.   Pemilik gedung bioskop.

Pemilik gedung bioskop juga dituntut membudayakan sensor mandiri ini. Misalnya dengan tidak menayangkan trailer film berklasifikasi 17+ pada saat penayangan film untuk anak-anak. 



Budaya Sensor Mandiri dalam Keseharian

Sebagai orangtua, kita tidak bisa berlepas tangan dari urusan sensor-menyensor ini. Menonton film di bioskop hanya bisa dilakukan pada jam-jam tertentu. 

Selain itu, ada dana yang harus dikeluarkan untuk membeli tiket dan transpor, mungkin pula harus mengantre, dan sebagainya. Namun, menonton TV di rumah bisa dilakukan kapan saja secara gratis.

Dalam upaya membangun budaya sensor mandiri di rumah, teman saya ada yang memilih “No TV” secara total di rumah. 

Ada juga yang memilih berlangganan TV kabel saja karena ada saluran khusus buat anak-anak. Ada pula yang memilih menyetel TV hanya pada jam-jam tertentu.

Saya sendiri bukan termasuk yang “mengharamkan” tontonan di bioskop dan televisi. Bagi saya, tontonan elektronik itu tidak melulu berpengaruh negatif. Pengaruh positifnya pun ada. 

Tetap ada televisi di rumah saya. Namun, tidak semua acara boleh mereka tonton. Sinetron-sinetron tertentu (tidak semua sinetron) yang menurut saya tidak baik untuk mereka, masuk daftar yang tidak boleh ditonton. 

Tidak terlalu sulit, sih, karena saya sendiri memang kurang suka menonton sinetron.

Jika yang ditayangkan bermuatan pengetahuan dan bernilai positif, yuuuk … nonton sama-sama sekalian untuk family time

Misalnya tentang anak-anak berprestasi di seluruh dunia, fakta unik binatang, atau fenomena alam yang mengagumkan. Main "game online" yang edukatif bersama anak juga menyenangkan. Misalnya ZenCore Cara Seru Asah Otak.

budaya sensor mandiri oleh orangtua
Orangtua perlu menyeleksi tontonan. 


Budayakan Sensor Mandiri dari Rumah

Kasih sayang dan kepedulian orangtua kepada anak bukan berarti dengan membiarkan mereka melakukan segala yang mereka mau. 

Dalam hal tontonan, menerapkan budaya sensor mandiri justru merupakan bentuk kepedulian orangtua kepada sang buah hati.

Dalam pandangan saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun budaya sensor mandiri ini.

1.  Memberi teladan pada anak.

Anak adalah peniru ulung. Mereka akan cepat belajar dari contoh. Jika orangtua tak ingin anak “menjadi tua” di depan TV, hendaknya orangtua pun tidak menghabiskan waktu sepanjang hari dengan menonton acara TV.

Perintah “Sana belajar! Jangan nonton melulu!” akan kurang efektif jika orangtua terus saja asyik menonton sinetron dengan volume keras.

2.  Membatasi waktu dan jenis tontonan.

Sepakati bersama kapan boleh menonton dan apa yang boleh ditonton. Sesuaikan dengan usia dan perkembangan kejiwaan anak,  bukan dengan keinginan anak semata.

Mengajak anak ke bioskop dan menonton film yang bukan untuk usianya, sebaiknya tidak dilakukan. Film yang sudah lolos sensor LSF selalu diberi klasifikasi usia: Semua Umur (SU), 13+, 17+, dan 21+. 

Klasifikasi usia itu tentu bukan asal-asalan disematkan. Salah satunya karena ada adegan yang tidak sesuai untuk anak di bawah usia tersebut.

3.   Mendampingi anak saat menonton.

Sedapat mungkin dampingi anak saat menonton TV. Dengan begitu kita bisa tahu dan mengontrol apa yang mereka tonton. Jika ada yang perlu dijelaskan, bisa langsung dijelaskan.

Film lawas The Gods Must Be Crazy yang  beberapa kali ditayangkan di televisi termasuk yang ditonton oleh anak saya. 

Dengan mendampinginya menonton, saya dapat memberi penjelasan kepada dia tentang perbedaan budaya dan alam Bostwana dengan Indonesia, tentang kenapa Xixo dalam film tersebut berpakaian seperti itu. 

4.   Memperkaya wawasan anak.

Setelah menonton sebuah film atau acara lain di TV, dorong anak untuk mencari tahu. Kita bisa memfasilitasinya dengan menyediakan buku-buku bacaan yang sesuai. Atau bisa juga mencarinya bersama-sama di internet.

Selesai menonton acara yang berseting luar negeri, putra bungsu saya biasanya membuka buku tentang negara-negara di dunia. 

Sebenarnya saya membeli buku itu untuk referensi saya. Tapi ternyata justru si bungsu yang lebih sering membaca dan menikmati isinya. Tentang ini bisa dibaca lebih lanjut dalam Berliterasi Sejak dari Rumah.


Di tangan yang bijak, film dan tayangan elektronik lainnya bisa dimaksimalkan nilai positifnya. Bisa untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan hiburan sehat. Bisa pula untuk membangun kedekatan antar anggota keluarga.

Yuk, kita bangun budaya sensor mandiri sebagai bentuk kepedulian dan sayang kita kepada anak. #AyoSensorMandiri

      1) Purnama, Basuki Eka. Media Indonesia.com. Masyarakat Diminta Lakukan Sensor Mandiri. http://mediaindonesia.com/news/read/60879/masyarakat-diminta-lakukan-sensor-mandiri/2016-08-10 Diunduh tanggal 22 Agustus 2016.


Lomba blog LSF RI
Tulisan ini menjadi salah satu  pemenang dalam Lomba Blog LSF 2016.

Tidak ada komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.