12 December 2014

Mendadak Horor


Mendadak Horor - "Kok kamu sekarang mendadak sering nulis cerita horor?"
"Lagi tren horor ya makanya kamu ikutan nulis horor?"

Belakangan, saya lumayan sering nerima pertanyaan senada dengan ini. Tepatnya setelah novel Limit terbit di Ice Cube KPG (Maret 2014). Pertanyaan itu makin sering muncul ketika novel Dimensi (Elex Media Komputindo) dan duo noomic saya Cermin dan The Shy (Penerbit Anak Kita) menyusul terbit.
 

Sebenarnya, bukan baru kali ini saya menulis cerita horor. Beberapa tahun yang lalu saya pernah menulis cerpen horor duet dengan Tria Ayu. Cerpen yang dimuat di majalah Story itu berjudul "Ghost Writer". Saya juga ikut menulis dalam buku Scary Moments 1.

Bukan karena belakangan ini lagi tren buku horor makanya saya nulis cerita horor. Lagi pula, novel-novel saya nggak instan kok. Dimensi ditulis pada semester pertama tahun 2013 (terbitnya sih Juli 2014). Cermin dan The Shy malah saya tulis akhir tahun 2012 (terbit Agustus dan September 2014). Jadi, nggak mendadak horor juga kan?


Ada unsur horor dalam keempat buku saya ini.

Menolak Mitos  
Horor dalam novel-novel saya masih masuk kategori soft horror. Seram tapi nggak sadis. Seram tapi banyak nilai kebaikan yang bisa dipetik. Oh, please. Saya cinta damai (dan cinta padamu #curcoldetected). Lebih-lebih, segmen pembaca novel-novel saya adalah remaja (Limit dan Dimensi) dan praremaja (Cermin dan The Shy). 

Dalam beberapa kesempatan, saya mengatakan menulis horor karena sering mengalami yang horor-horor. Itu benar. Sejak 2008, adaaa aja kehororan yang saya alami. Dari barang-barang yang menghilang dan berpindah tempat sebelum mata sempat berkedip, mendengar suara tanpa wujud, seangkot dengan penumpang gaib, sampai dikuntit makhluk halus di sebuah mal.

Kadang-kadang saya cuek sih, tapi kadang-kadang merinding metal juga.

Dari situ saya berpikir, "Kenapa nggak ditulis aja?" Oh, bukan. Bukan mengeksploitasi mereka. Bukan pula menakut-nakuti apalagi membodohi pembaca. Ada hal lain yang mengusik saya. Hal lain itu adalah mitos, anggapan-anggapan yang tumbuh subur di masyarakat.

Pasti pernah dong mendengar tentang angka 13 yang seram? Rumah seram bernomor 13, lantai 13 yang ditiadakan karena dianggap angker, dan sebagainya yang serba 13.

Itu cuma mitos. Sewaktu si Medan, rumah saya nomor 13 dan nggak ada yang seram-seram. Angka sial? Bisa jadi masyarakat  Amerika Serikat menganggap 13 adalah angka sial, tetapi angka 13 ini justru dianggap angka baik di India. Di Jepang angka sial bukan 13 melainkan 9, di Italia malah angka 17. Jadi, menurut saya, sial atau tidaknya, seram atau tidaknya, bukan masalah angka.

Dalam noomic The Shy, rumah seram bukan nomor 13, tapi nomor 38. Kenapa 38? Ah, angka itu saya ambil secara random karena mereka bisa berada di mana-mana tanpa melihat nomor rumah. Mereka juga nggak melihat itu rumah tua atau rumah baru. Rumah (atau bangunan lainnya) sih bisa aja baru, tapi tanah tempat bangunan itu berdiri kan sudah berusia sangat tua.


Makhluk halus ada di mana-mana, tak cuma di rumah tua.

Omong-omong, dalam Islam angka ganjil itu bagus lho. Allah itu ganjil dan menyukai jumlah yang ganjil. Malam Lailatul Qadr juga turunnya pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.


Mitos lain yang kayaknya semua orang udah tahu adalah "Malam Jumat itu angker!"

Emh... sepengalaman saya sih, mereka bisa muncul dan mengganggu kapan saja, nggak perlu menunggu malam Jumat. Bahkan, nggak perlu menunggu malam. Lah saya seangkot dengan penumpang gaib itu pada siang hari bolong, di jalanan kota yang sedang ramai-ramainya. Waktu dikuntit di mal juga bukan malam hari, melainkan sekitar pukul 11.00.


Yang saya tahu, umat Islam justru dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam dan hari Jumat karena ini adalah saat yang mustajab untuk berdoa.

Nggak ngerti deh kenapa yang banyak beredar justru anggapan bahwa malam Jumat itu menyeramkan dan saatnya setan-setan bergentayangan. Di novel-novel saya, Insya Allah, nggak ada cerita tentang malam Jumat yang angker.

Ada juga yang beranggapan "Hari gini, mana ada hantu? Yang gaib-gaib seperti itu sih adanya cuma zaman dulu waktu pemikiran manusia masih primitif."

Ah, enggak tuh. Mereka ada sepanjang masa. Zaman baheula, zaman modern sekarang... sampai akhir zaman. Usia mereka bahkan lebih tua daripada kita.



Anak Indigo  
Lalu, tentang anak-anak indigo dalam novel-novel saya?

Saya pernah menulis tentang ini dalam postingan terdahulu. Silakan meluncur ke postingan yang ini yaaa....
Menjadi anak indigo tak selalu menyenangkan dan wow seperti anggapan sebagian orang. Yang pasti, mereka butuh dipahami dan didampingi, bukan divonis gila, sesat, autis, dan sebagainya. Pendampingan ini bisa dilihat di novel Dimensi. Di novel ini, Zhafira si anak indigo sudah lebih terarah berkat pendampingan orangtuanya. Berbeda dengan Keala di Limit yang masih terkaget-kaget dengan kemampuannya.

Kemampuan lebih yang mereka miliki berdampak pada tanggung jawab yang juga lebih besar. 


Nah, silakan berburu buku-buku saya ini ya *kedip cantik*. Meski ada unsur horornya, banyak nilai dan hikmah yang bisa dipetik di dalamnya. Seperti komentar Mbak Indria Salim setelah membaca The Shy.


Komen Mbak Indria Salim di Kompasiana.

Novel Dimensi, tentang remaja dengan sixth sense.

Salam,



Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...