05 May 2015

Pengalaman Mengedit Cerita Horor (Bagian 2)

Selama bekerja sebagai editor lepas, saya pernah menangani berbagai jenis naskah. Masing-masing punya kesan tersendiri. Ya naskahnya, ya penulisnya, ya penerbitnya.

Ada pengalaman unik? Banyak. Salah satunya ketika mengedit naskah horor. Di artikel Pengalaman Mengedit Naskah Horor (1), saya berbagi cerita tentang pengalaman seram ketika saya pertama kalinya mengedit naskah horor. 


Ketika itu, laptop yang sudah saya matikan dan tutup, terbuka dan hidup lagi. Sesuatu yang tak terlihat sedang bermain game di sana (Gimana saya tahu? Yaaa...lihat game di layar laptop, dong.Kelihatan sedang dimainkan).  Belum lagi bayangan yang menembus tembok di dekat kursi yang saya duduki.

Ternyata, yang pertama itu bukan yang terakhir. Naskah-naskah horor masih mampir ke saya. Naskah-naskah itu membawa pengalaman horor masing-masing.

Ketika saya mulai membaca naskah horor X, ada wangi melati yang sangat tajam di dekat saya. Seperti minyak wangi seliter ditumpahin di punggung saya. Wangi melati itu masih tercium ketika esoknya saya jalan-jalan sendiri.

Serem? Iya, sih. Tapi itu lebih mending daripada bau-bauan yang lain. Pernah ada bau bangkai yang sangat menyengat (padahal setelah dicek ke mana-mana, nggak ada bangkai binatang apa pun), pernah pula ada bau kemenyan yang menusuk hidung.

Huuuft...! Alhamdulillah, sekarang saya tak pernah mendapat naskah horor lagi. Naskah yang dikirim kepada saya sekarang kebanyakan naskah nonfiksi populer semacam motivasi atau how to


Foto  diambil dari naturewallpaperfree.
Kalau foto mawar berdarah di atas itu karya keponakan saya, namanya Saffanah.

Nggak Selalu Seram
Lepas dari bau-bauan aneh dan hawa dingin yang sering mengelus kulit saya ketika mengedit naskah-naskah horor, ada beberapa hal menarik ketika mengedit naskah horor. Ternyata, tak semua naskah membuat saya merinding ketika membacanya untuk pertama kali. Bukannya saya udah jadi pemberani tingkat dewa tapi karena masalah teknis.

Yup, masalah teknis penulisan.

Bagi saya, kisah seram baru terasa seram jika ditulis dengan baik. Pada pengeditan pertama, banyak cerita seram yang tak berefek apa-apa bagi saya.  

Bagaimana bisa? Tentu bisa. Bagaimana saya bisa merasa seram jika naskah itu:
  • Ditulis dalam kalimat-kalimat yang keriting, panjang, dan berputar-putar. Yang ada saya malah sibuk me-rebonding kalimat itu. Seram? Nggak sempat.
  • Banyak sekali typo. Salah ketik, salah ejaan, dsb. Yang ada, saya sibuk membuka kamus dan memperbaiki kesalahan itu. Seram? Nggak sempat.
  • Memuat banyak bahasa daerah atau istilah lokal yang tidak saya mengerti. Yang ada, saya sibuk googling, membuat catatan kaki, membuka-buka kamus, atau mengirim SMS pada teman-teman yang mengerti bahasa daerah tersebut. Seram? Nanti aja, deh. Saya bingung. Tak salah memasukkan bahasa daerah. Namun, jika buku itu akan diedarkan tidak hanya di daerah tersebut, tidak hanya akan dibaca oleh orang yang mengerti bahasa tersebut, berilah penjelasan.

Sedikit saran dari saya supaya naskah serammu lebih memikat mata editor, kurangi kesalahan-kesalahan di atas, ya. Errr... tapi semoga bukan saya ya yang jadi editornya. Saya kan penakut :))

Omong-omong, sudah punya nomik (novel komik) horor karya saya? Judulnya Cermin dan The Shy. Di toko-toko buku ada, loh. Beli langsung pada saya juga boleh. Ada diskon dan ditandatangani. :)


Noomic horor yang soft karena untuk anak-anak dan preteen.

Baca Juga








Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...