14 July 2016

Bisakah Hidup dari Menulis?



Bisakah Hidup dari Menulis Saat acara sharing tentang menulis di kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, seorang dosen bertanya tentang bisa tidaknya seseorang hidup hanya dari menulis.
 
Jelas tidak bisa! Hanya menulis? Nggak makan, nggak minum, nggak bernapas? Gimana bisa hidup? 

Hahaha … nggaklah. Masa saya jawab begitu. Bisa-bisa saya langsung dideportasi ke Timbuktu buat nemenin Donal Bebek.



Hidup dari Menulis


Menurut saya, sih, bisa saja hidup dengan mengandalkan penghasilan dari menulis, hanya dari menulis. Yang dimaksud di sini bukan penulis yang juga karyawan sebuah perusahaan, ya (contohnya, bukan copywriter di sebuah biro iklan yang mendapat gaji tetap).

Beneran?

Iya, beneran. Tapi ada syaratnya.

1. Jadi penulis yang produktif.

Setiap tahun menerbitkan banyak buku. Lima atau enam buku cukuplah. Kalau menulis untuk koran dan majalah, setiap minggu ada yang dimuat dan dibayar.

Perlu ditegaskan nih, soal dibayar ini. Ada, lho, koran yang tidak membayar honor penulisnya, baik yang mengatakan secara terus-terang maupun secara malu-malu meong.

Kalau cuma mencari jam terbang supaya dikenal atau untuk mengisi curriculum vitae, silakan. Tapi kalau menulis untuk mendapatkan penghasilan, yang seperti ini sebaiknya ditinggalkan saja. 

Kalau menulis skenario … hm, kabarnya honor penulis skenario sinetron kejar tayang bikin ngiler, lho.

Bukan penulis produktif kalau hanya menerbitkan satu buku
lalu tak pernah menulis lagi.

 

2. Jadi penulis langganan bestseller.

Mungkin tidak produktif, setahun hanya satu buku tapi langsung bestseller. Terjual ribuan eksemplar dalam waktu singkat, dicetak ulang dalam tempo sebulan setelah terbit, menggunakan sistem royalti (bukan beli putus), dialihbahasakan, dan difilmkan. Ketika menerbitkan buku baru lagi, langsung bestseller lagi. Begitu seterusnya. 

Kalau tidak produktif dan jauh dari mega-bestseller, sepertinya susah hidup hanya dengan mengandalkan pendapatan dari menulis. 

Bukannya hendak menciutkan nyali, namun penulis yang mendapat royalti hanya seratus ribu dalam enam bulan dipotong pajak 15% itu benar-benar ada.

3. Punya pasangan hidup yang berpenghasilan besar.

Bayangkan saja kalau suami atau istri tajir melintir, punya pekerjaan dengan gaji besar, dan punya deposito yang cukup buat tujuh turunan tujuh tanjakan. Kita bisa tenang menulis. Tidak perlu pusing memikirkan kapan honor akan ditransfer, apa masih ada cukup uang buat membeli gas dan membayar tagihan listrik, dan sebagainya.Tinggal menulis.

Huehehe… saya juga mau kalau begini. Tapi… khusus poin ini ada hal yang perlu diperhatikan. Sepengalaman saya, pasangan hidup yang bisa memenuhi kebutuhan lebih dari cukup bisa membuat kita terjebak dalam zona nyaman. Begitu nyamannya hingga enggan dan lupa menulis.

Saya sendiri baru kembali menulis (setelah vakum empat tahun) ketika zona nyaman itu hancur berantakan.

Syarat Lainnya

Ketika di kampus Telkom University, saya hanya menyebutkan tiga poin itu. Ketika menulis ini, saya teringat beberapa poin lagi yang membuat seseorang bisa hidup dengan mengandalkan penghasilan hanya dari menulis.

Nomornya saya lanjutkan saja, ya, dari yang di atas tadi.

4. Menulis sebagai co-writer (CW) dan atau ghostwriter (GW).

Tentu saja, CW dan GW yang berbayar. Saya merasa perlu menegaskan masalah berbayar ini karena bukan baru satu kali ada yang meminta saya menjadi CW dan GW tetapi marah-marah ketika saya mengatakan ada honor yang harus mereka bayarkan pada saya.


5. Menjadi blogger.

Blog yang pageviews-nya tinggi, rangking-rangkingnya bagus, sering menang lomba, atau SEO-nya top juga bisa menjadi sumber penghasilan. Bisa dari menulis artikel pesanan sponsor, replacement article, iklan, review produk, hadiah lomba, dan sebagainya.

Untuk sampai pada posisi seperti itu jelas butuh kerja keras dan waktu yang tidak sebentar. 

Jadi penulis produktif butuh kerja keras.
Nggak bisa kalau cuma tidur di depan laptop seperti si Cingcing ini :D

 

6. Diversifikasi menulis.

Cakupan menulis itu luas, lho. Dari jenis tulisan saja ada novel, dongeng, cerpen, puisi, esai, artikel, opini, resensi, review produk, skenario, naskah iklan, naskah pidato, dan sebagainya.

Dari segi kemasan ada buku, majalah, koran, media elekronik, situs internet, blog, dan sebagainya. Dari segi genre dan segmen pembaca pun bermacam-macam. 

Selama ini, kan, ada saja yang beranggapan bahwa belum disebut penulis kalau belum menghasilkan buku. Ah, tidak seperti itu. Tidak harus dalam bentuk buku.

Selain itu ada pekerjaan lain yang masih berhubungan erat dengan menulis. Penulis bisa merangkap menjadi penerjemah, editor, trainer kepenulisan, atau membuka kelas menulis.

Penulis yang sudah punya jam terbang pun biasanya diundang untung mengisi acara-acara kepenulisan seperti workshop, talkshow, sharing, bedah buku, atau menjadi juri lomba menulis.

Saya bersama rekan-rekan penulis dan akademisi ketika menjadi juri
Apresiasi Sastra Siswa Sekolah Dasar - Konferensi Penulis Cilik Indonesia
tahun 2014 (atas) dan 2015 (bawah).

Berbayar?

Tentu saja. Kita kan sedang bicara tentang mendapatkan penghasilan dari menulis, bukan membicarakan kerja bakti membersihkan lapangan RT. :)

Nah, berani mengandalkan menulis sebagai sumber penghasilan utama? 

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...