01 August 2016

Family Time Seru dan Berkualitas



Family Time Seru dan BerkualitasFamily Time Seru dan Berkualitas ― “Enak banget ya, Mbak, kerja di rumah gitu. Bisa sama anak-anak terus.”

Saya cukup sering menerima komentar sejenis itu. Ya, kebanyakan teman saya adalah orang kantoran. Pergi pagi, malam hari tiba lagi di rumah.

Saya bukan orang kebanyakan, dalam arti bukan orang kantoran. Saya working home mother. Ibu yang bekerja dari rumah. Menulis, mengedit, dan berjualan buku saya lakukan dari rumah. Dulu, mengajar di kelas menulis pun dari rumah. Yang penting koneksi internet lancar jaya.

Hanya sesekali saya pergi berburu buku untuk lapak online saya, talkshow, gathering, atau semacam itu. Selebihnya saya kerjakan dari rumah saja. 

“Enak, ya, bisa sama anak-anak terus….” 

Ahaha… kenyataannya sih nggak selalu begitu.

Begini yang Terjadi di Rumah….

Salah satu tantangan bekerja dari rumah adalah dalam hal kedisiplinan. Anak-anak tahu, kalau saya sedang serius di ruang kerja, berarti sedang tidak bisa diganggu. Lebih-lebih kalau ada kamus-kamus terbuka, atau ada buku-buku menumpuk di meja saya. Lebih parah lagi, kadang-kadang saya sampai tertidur di atas laptop.

Family Time Seru dan Berkualitas
Saya juga sering sampai tertidur di meja kerja begini, nih.

Meski begitu, si bungsu sering masuk ke ruang kerja saya dan tiba-tiba memeluk saya. “Mami harus diiiiii-lock!” begitu katanya.

Tak jarang saya merasa bersalah juga karena tak bisa sering-sering bersantai dengan mereka meski hampir setiap hari berada di rumah. Mau bagaimana lagi? Saya, kan, tidak punya Doraemon yang bisa mengeluarkan apa saja dari kantong ajaibnya. 

Kalau ada Doraemon, tanpa saya harus banting tulang bekerja pun semua kebutuhan bisa terpenuhi. Tinggal berteriak memelas seperti Nobita, "Doraemooon, tolong akuuu!"

Anak-anak mengerti, sih. Tapi tetap saja rasa bersalah itu ada. Rasa bersalah itu makin menjadi-jadi ketika mereka libur tetapi saya harus bekerja, atau sebaliknya. Ketika saya libur (sebenarnya sih bukan libur, tapi sedang jobless :D), mereka justru sibuk dengan aktivitas di sekolah. Terutama si sulung yang sudah ABG dan punya banyak kegiatan.

Family Time

Meski begitu, family time yang seru dan berkualitas harus tetap ada, dong. Begini ini yang sering saya lakukan.

Jalan-jalang bareng.

Dengan catatan, kalau situasi dan kondisi memungkinkan. Tujuannya bisa ke mana saja di dalam kota. Makan-enak-murmer di pasar kaget, ke toko buku, ke museum…, ke mana saja.

Nggak selalu bisa bertiga, sih. Kadang hanya bersama si sulung, kadang bersama si bungsu saja.

Kalau pergi berdua-dua begitu, biasanya bisa mengobrol lebih banyak. Si sulung bisa leluasa bercerita tentang kesibukannya di sekolah, tentang teman-temannya, atau tentang keinginan-keinginannya. Dia nggak perlu mendadak bete karena diserobot oleh adiknya.

Kalau pergi dengan si bungsu saja pun begitu. Dia bisa puas bertanya tentang segala macam. Kenapa kalau naik bus Damri dapat karcis sedangkan kalau naik angkot tidak, kenapa kalau hujan jalanan sering tergenang (banjir cileuncang, kalau kata orang Sunda), kenapa ini kenapa itu.

Mengajak anak-anak dalam pekerjaan saya.


Kalau diundang mengisi suatu acara, saya selalu menanyakan kemungkinan untuk membawa anak. Waktu si bungsu masih balita, sih, malah pakai persyaratan di lokasi acara ada playground atau setidaknya ada panitia yang mau menjadi baby sitter. Hehehe…. Tapi itu dulu. Sekarang mah sudah lebih aman terkendali.

Mengajak mereka dalam pekerjaan offline saya begitu tidak cuma bermanfaat untuk family time. Manfaat lain, mereka bisa lebih mengenal pekerjaan saya dan ... ada yang motretin saya selama acara berlangsung. Hehehe ....


Seperti pertengahan Ramadhan kemarin. Ketika itu saya diundang untuk mengisi acara sharing tentang menulis di sebuah kampus di Bandung. Untungnya, saya bisa membawa anak-anak ke acara tersebut.

Acara berlangsung sampai pukul setengah empat. Rasanya tak mungkin mengejar waktu untuk berbuka puasa di rumah karena harus melalui titik-titik macet. Anak-anak setuju―sangaaaat setuju―untuk berbuka puasa di luar rumah.

Jadi, sebelum berangkat saya mampir dulu ke minimarket di dekat rumah untuk membeli sebotol air mineral dan sebungkus Oatbits Vitafruit. Untung banget kemasan oatbits ini convenience pack, jadi gampang dibawa-bawa.

Family Time Seru dan Berkualitas
Oatbits Vitafruit untuk bekal jalan-jalan :)

Persiapan dong kalau-kalau harus berbuka di tengah perjalanan. Kalaupun sudah sampai di rumah makan, ada kemungkinan penuh dengan pengunjung sehingga pesanan kami terlambat diantar. 

Oya, Oatbits Vitafruit ini adalah biskuit oat dengan perpaduan tiga buah asli, yaitu jeruk, tomat, dan wortel. Oat ini dapat menurunkan kadar kolesterol jahat sekaligus membantu mengurangi risiko penyakit jantung. 

Serat oat juga baik untuk pencernaan, lho. Kandungan mineral yang ada di dalam wortel juga bermanfaat untuk menjaga kesehatan gigi. Selain itu, Oatbits juga mengandung vitamin B yang bermanfaat untuk menambah energi. Cocok banget. Everyday is healthy, deh.

Dengan membawa Oatbits sebagai bekal ringan dan sehat begini, kami bisa menyegerakan berbuka puasa ketika waktunya sudah tiba. Bukankah sunahnya memang begitu?
lomba blog oatbits
Selain Vitafruit, Oatbits punya banyak varian rasa lainnya.
Pas untuk memenuhi kebutuhan kita yang butuh camilan sehat.

Berkegiatan seru di rumah.

Kegiatan seru di rumah ini nggak perlu modal besar, bahkan bisa jadi nggak perlu modal. Yang penting dikerjakan bareng-bareng dan menyenangkan. Membuat kue bareng seperti ini, misalnya. Anak-anak yang kompakan ingin membuat kue. Saya sih oke-oke saja. 

Acara bikin kue ini seru. Dengan catatan, si emak jangan kebanyakan protes kalau ketebalan kuenya nggak sama. Ada yang tebelnya sampai satu sentimeter, ada yang setipis kertas.  

Si emak juga nyengir aja deh kalau melihat kue segede gitu cuma dikasih hiasan satu titik oranye doang di tengah-tengahnya. Selebihnya pucat polos tanpa polesan. Atau sebaliknya, semua warna ditumpuk begitu saja.
Family Time Seru dan Berkualitas
Bikin kue bareng gini juga asyik untuk family time seru dan berkualitas.

Yang udah-udah, sih, kebanyakan dikomentari harus begini harus begitu malah bikin anak-anak bete. Suasana pun bisa berubah jadi tidak menyenangkan. Kalau sudah begitu, family time yang seru terancam gagal, deh. Jadi, biarkan saja mereka berkreasi.

Ketika kue sudah matang dan bisa dimakan, barulah dibahas bareng. Ketawa bareng ngelihat hiasan kuenya jadi nggak keruan, mbleber ke mana-mana. Ngakak bareng gara-gara nastar yang maunya seperti buah jeruk segar plus daunnya tapi malah jadi seperti jeruk ketempelan ulat gendut.

Huehehe… kapaaaan ... ya bisa bikin cookies yang renyah dan enak seperti Oatbits?

***

Ternyata tetap bisa, ya, menciptakan family time yang seru di antara kesibukan sehari-hari. Tempat menjadi tak terlalu penting. Yang penting adalah kebersamaan yang berkualitas dan menyenangkan.


#EverydayisHealthy #OatbitsFamily 



Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...