27 January 2017

Salah Ucap Ikan Tongkol dan Ikan Paus



salah-ucap-ikan-tongkol-jadi-viralIkan Tongkol dan Ikan Paus – Kemarin linimasa Facebook saya mendadak ramai dengan ikan tongkol. Berhubung malamnya saya baru bergadang hingga sinar mata tinggal 5 watt dan otak agak korsleting, yang terbayang malah ikan tongkol balado. 

Sore harinya barulah saya tahu kejadiannya. Tepatnya setelah teman-teman di dua grup alumni membagikan sumbernya. Sebuah rekaman video yang menampilkan Pak Presiden berdialog dengan seorang siswa SD. 

Rupanya yang dihebohkan adalah saat si bocah salah ucap ikan tongkol menjadi sebuah kata yang merujuk pada alat kelamin laki-laki. Tidak ada yang memperhatikan nasib si “ikan paus”.

Belajar dari Lingkungan

Sebagai orangtua berjiwa muda, saya prihatin dengan salah ucap tersebut. Saya yakin, si bocah tidak sengaja mengucapkan kata tersebut. Di depan Presiden, pula. 

Kita sendiri mungkin pernah salah mengucapkan kelapa menjadi kepala, keledai menjadi kedelai, murah menjadi rumah, ribu menjadi biru, teflon menjadi revlon (haha…ini status temen saya yang bengong waktu disarankan memasak pakai revlon), dan semacamnya.

Menjadi masalah ketika tongkol diucapkan menjadi ****ol. Kenapa bisa begitu?

Kemungkinan besar, penyebabnya adalah lingkungan. Anak-anak belajar dari lingkungan, termasuk dalam belajar berbahasa.




Kalau sudah punya anak, coba perhatikan atau ingat-ingat anak sendiri. Di rumah kita biasakan dia menggunakan bahasa yang baik, bahasa yang santun. Ketika dia mulai bergaul dengan lingkungan di luar keluarga inti, pernahkah dia pulang dan membawa kata-kata yang menurut kita kasar atau jorok?

Lebih parah lagi kalau yang biasa mengucapkan kata-kata kasar dan jorok itu adalah lingkungan terdekat dan diucapkan berulang. Akan semakin mudahlah melekat dalam benak anak.

Coba pula perhatikan lingkungan kita. Bukan baru satu kali saya melihat ibu-ibu latah. Pernah, nih, di sebuah pasar tradisional. Ada seorang ibu yang terkejut entah karena apa, lalu latahnya keluar. Dengan nyaring dia mengucapkan kata-kata yang jorok dan kasar.

Dan yeah, ada banyak anak kecil juga di sana. Entah apa yang dipikirkan anak-anak itu ketika melihat orang-orang dewasa (terutama laki-laki) di sekitarnya terbahak-bahak. Sesuatu yang lucu, wajar, menggembirakan, dan menyenangkan jika diucapkan? Duh!

Saya pernah baca di sebuah artikel, sebaiknya biasakan mengucapkan kata-kata yang baik. Jika suatu ketika kita kaget dan sebuah kata terlontar spontan dari mulut, diharapkan yang keluar adalah kata-kata baik itu. Ketika dikagetkan oleh teman, lebih indah jika spontan terucap “Astaghfirullaaah…” atau “Ya Allah…”  kan?

Komunikasi dengan Anak

Saya pernah ngobrol dengan anak sulung saya, “Kak, Mami heran deh. Kalau lagi pergi sama Adek trus Mami ngajak Adek ngobrol, kok orang-orang heran ya. Misalnya mau beli kue. Kan Mami nanya nih, Dek mau kue apa? Eh, penjualnya menatap heran. Lihat Mami ngobrol sama Adek aja mereka terheran-heran, apalagi kalau lihat Mami bicara sama kucing, ya?” 


 

Hahaha….iya, saya sering bicara pada kucing saya dan kucing-kucing yang saya temui di jalan. Believe it or not, kucing juga seneng lho mendengar kita bicara pada mereka.

Oke, balik ke ikan tongkol sebelum ikannya digondol kucing saya. :D

Minimnya pengetahuan anak tentang nama-nama ikan bisa jadi karena jarang makan ikan atau sering makan ikan tetapi tidak diperkenalkan pada nama-namanya.

Padahal simpel, kok. “Dek, kita makan pakai pakai gulai ikan patin, yuk” atau “Mami lagi masak ikan tongkol balado nih.” Sebut nama si ikan. Jadi, bukan sekadar bilang “makan ikan yuk”  atau “lagi masak ikan”.

ikan-mas-ikan-tongkol
Kalau yang ini namanya ikan mas. :)

Kelihatannya… apa sih? Gitu doang. Tapi itu bermanfaat menambah kosakata dan memperluas wawasan si bocah, lho.

Omong-omong, temen-temen yang jago bikin lagu, ayo dong bikin lagu tentang nama-nama ikan ini. Dulu kan ada lagu anak-anak tentang rasa.

“Siapa tahu apa rasa gula?
Manis… manis … manis… itu rasanya.
Siapa tahu apa rasa cabai?
Pedas … pedas… pedas… aku tak suka….”


Lalu, Apa Salah Ikan Paus?

Ketika perhatian terfokus pada si ikan tongkol, adakah yang memperhatikan ikan paus dalam dialog tersebut?

Perhatian pertama saya justru tertuju pada ikan paus itu (yang diucapkan beberapa kali dalam video tersebut). Paus bukanlah ikan. Paus adalah salah satu binatang mamalia yang hidup di laut. Ia bernapas dengan paru-paru (bukan dengan insang seperti pada ikan), berkembang biak dengan cara melahirkan, menyusui anaknya, dan memiliki ciri-ciri mamalia lainnya. 

Saya juga sering menemukan “ikan paus” ini dalam buku-buku bacaan, terutama buku cerita untuk anak-anak. Kalau saya temukan dalam bentuk naskah, saya edit menjadi paus.

Pernah ada penulis yang nggak terima “ikan paus” saya edit menjadi “paus”. Kalau sudah begitu biasanya saya kasih rujukan ke KBBI dan artikel-artikel tepercaya tentang paus, atau kalau perlu tentang perbedaan ikan dan mamalia laut.



Koreksi Diri, Bukan Bully

Video ikan tongkol dan ikan paus itu sudah dibagikan oleh banyak orang. FYI, KPAI sudah melakukan koordinasi dengan Kemeninfo untuk menghentikan peredaran video tersebut (gimana caranya ya? #emakkudet) dan mengusut penyebar pertamanya. Video tersebut dinilai oleh KPAI sebagai bentuk bullying pada anak.

Daripada ikut-ikutan mem-bully, lebih baik kita koreksi diri sendiri dulu.
Jangan-jangan kita tak pernah memperkenalkan nama-nama ikan pada anak-anak kita. Jangan-jangan kita tak pernah menghadirkan ikan sebagai menu di rumah. 

Jangan-jangan kita sering mengucapkan kata-kata kasar dan jorok dalam keseharian sehingga ditiru oleh anak.

Jangan-jangan kita tidak memperhatikan anak kita mempunyai masalah (terbolak-balik) dalam mengucapkan kata-kata yang mempunyai kemiripan.

Jangan-jangan kita pun masih menganggap paus itu ikan….

***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...