17 September 2017

Siapa Bilang Menulis Tidak Butuh Modal?



Beberapa hari belakangan ini menulis dan profesi sebagai penulis buku sedang diperhatikan. Tepatnya, setelah Tere Liye dan Dee bersuara lantang tentang pajak royalti buku.

Lucunya, ada (bahkan sesama penulis) yang kemudian nyinyir. “Ngapain, sih, penulis protes soal pajak royalti? Wajar dong kena pajak 15%. Kan kerjanya juga nggak pakai modal. Tinggal duduk dan ketak-ketik. Nggak kayak pegawai kantoran yang minimal mesti ngeluarin ongkos transportasi. Nggak kayak pengusaha yang mesti ngeluarin uang buat beli bahan baku dan bayar karyawan.”

Euheuheu…. Enak banget, deh, jadi penulis itu. Nggak perlu modal tapi dapat duit.

Modal

Kita sering memahami modal sebagai uang dan benda. Kalau tidak berupa uang atau benda, dianggap bukan modal.

Mengutip dari Buku Pintar Ekonomi Syariah karya Ahmad Ifham Sholihin (Gramedia Pustaka Utama, 2010: 876), modal ada dua macam. Modal materi dan modal nonmateri. Termasuk dalam modal nonmateri ini adalah nama baik (reputasi).

Kita kutip yang lain, ya. Karl E. Case dan Ray C. Fair dalam buku Prinsip-Prinsip Ekonomi Jilid 1 (Erlangga, 2007: 269) menyebutkan bahwa termasuk modal nonmateri adalah:
  • Modal tak berwujud (intangible capital), contohnya nama baik (goodwil).
  •  Modal sumber daya manusia (human capital). Contohnya, keahlian dan pengetahuan pekerja.
Clear, ya, modal kerja tak selalu berupa materi.


 

Modal Para Penulis

Kebanyakan penulis tidak berkantor. Dengan kata lain, kebanyakan bekerja dari rumah.

Kelihatannya nggak perlu modal, ya. Nggak perlu beli bensin, nggak perlu bayar ongkos transpor, nggak perlu baju kerja keren (dasteran atau kaus oblong belel juga bisa udah kerja). 

Itu kelihatannya. Nyatanya, penulis juga pakai modal supaya bisa menulis. Ada modal materi, ada modal nonmateri.

Berikut ini 12 modal para penulis.

1. Laptop atau PC.

Zaman begini, naskah tidak lagi diketik dengan mesin ketik manual. Zaman menulis di daun lontar pun sudah lama berlalu. 

 Siapa Bilang Menulis Tidak Butuh Modal?
Laptop, modal materi yang penting bagi penulis.
(kucing-kucing yang terdampar di meja nggak usah dimasukkan modal 😀)

Pengiriman naskah pun banyak yang lewat email. Kebayang repotnya ngirim email berisi naskah yang ditulis di daun lontar.

Spek laptop atau PC yang dibutuhkan penulis buku umumnya di bawah kebutuhan ilustrator. Yang penting bisa buat ngetik. Tapi yang spek secukupnya itu juga dibeli pakai uang, bukan pakai daun kering.

2. Koneksi internet.

Entah pakai modem atau wifi. Pokoknya ada koneksi internet. Gunanya untuk kirim naskah, komunikasi dengan penerbit, searching bahan tulisan, mencari ide, promosi buku, dll.

3. Ponsel.

Jangankan penulis, penjual sayur keliling aja pegang ponsel untuk memperlancar pekerjaannya. 

“Besok bawain jengkol sekilo ya, Mang.”
“Mang, pesen udang sekilo. Pilihin yang besar dan segar, ya.”
Maaaang, ayeuna di mana? Kangkung aya keneh, teu? Pang simpenkeun tilu kanggo abdi. Abdi ka ditu sakedap deui.” (mohon maaf kalau ada yang mendadak roaming).

Apalagi penulis, Kak.

4. Buku.

Penulis buku harus mau membaca buku (dan literatur lainnya). Mengutip kata Mas Benny Rhamdani, “Kalau tekonya kosong, kira-kira bisa mengeluarkan isi atau nggak?”

Teman saya, Tethy Ezokanzo, butuh membaca belasan sampai puluhan buku (termasuk kitab-kitab klasik) untuk menulis satu buku anak.

Meski tidak sefantastis Tethy, saya juga membaca berbagai literatur (cetak dan digital) untuk menulis satu buku. Sempat elus-elus dompet sih waktu lihat satu buku referensi yang saya butuhkan berharga 100-200 ribu. Beli, jangan, beli, jangan, tokek, tokek, tokek…. 

Akhirnya beli juga. Ini modal. Investasi. 

 Siapa Bilang Menulis Tidak Butuh Modal?
Buku, modal untuk memperkaya pengetahuan penulis.

5. Ilmu pengetahuan.

Tak terlihat tapi sangat penting. Tulisan yang keluar dari orang tak berilmu pengetahuan sering terasa hampa. Tak ada isinya. 

Untuk mendapat ilmu pengetahuan berarti harus belajar. Harus banyak membaca. Mungkin juga melakukan riset. Itu butuh dana dan waktu yang tidak sedikit.

Menulis novel pun butuh ilmu pengetahuan, bukan hanya imajinasi.

6. Pengalaman.

Pengalaman hidup merupakan modal yang luar biasa. Tak jarang demi mendapatkan pengalaman tertentu, seorang penulis harus mengeluarkan dana tak sedikit.

7. Keterampilan menulis.

Yang namanya penulis ya harus terampil menulis. Kalau penulis juga terampil menjahit, melukis, memotret atau apalah, itu bonus. Seorang penulis tetap disebut penulis meski tak bisa menjahit atau melukis.

Tidak terampil menulis? Naskah dikembalikan terus karena tak ubahnya catatan belanja?

Ya, belajar. Ikut kelas-kelas menulis. Tentu saja, yang diampu oleh mentor andal dan sudah teruji kemampuan menulisnya. 




Untuk sampai pada tahap terampil menulis itu tidak cukup sekedip-dua kedip mata. Butuh praktik, praktik, dan praktik. Tak jarang harus melewati proses yang berdarah-darah.

Memangnya enak tulisan dikritik pedas? Memangnya enak tulisan yang kita anggap masterpiece ternyata bolak-balik dikembalikan karena karakter dianggap lemah, alurnya parah, logikanya ancur, penggarapan temanya basi, atau malah terdeteksi plagiat?


 Siapa Bilang Menulis Tidak Butuh Modal?
Kelas menulis dan kelas sharing tentang penulisan untuk
meningkatkan keterampilan menulis dan menjaga passion.

8. Printer dan scanner.

Sebagian penulis menganggap perlu memiliki printer dan scanner sebagai piranti tempur. Setahu saya, sih, beli printer dan scanner juga pakai duit.
Saya sendiri, karena belum punya cukup anggaran (dan belum perlu-perlu amat, sih), biasanya ke warnet atau tempat fotokopi untuk keperluan itu.

9. Makanan dan minuman.

Jangan lupa, penulis adalah manusia biasa yang butuh makan dan minum.

11. Waktu.

Waktu termasuk modal? 

Ya. Untuk menghasilkan sebuah buku seorang penulis bisa menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Ada waktu bersama keluarga yang harus dikorbankan. Ada waktu berkumpul bersama teman-teman yang terpaksa dilewatkan demi fokus menulis buku.

Dalam buku-buku ekonomi disebutkan bahwa modal tenaga kerja diukur dengan satuan waktu (jam kerja). Kalau modal tanah atau bangunan diukur dalam satuan meter persegi.



11. Tempat yang nyaman.

Bekerja dari rumah memang nyaman. Namun, ada kalanya penulis perlu mencari tempat di luar rumah untuk menulis. 

Kafe biasanya menjadi pilihan. Terutama yang dilengkapi dengan wifi dan colokan listrik. 

Di kafe yang tenang, penulis bisa lebih fokus bekerja. Nggak kepikiran pakaian kotor yang numpuk, setrikaan menggunung, atau lantai yang baru dipel tapi udah kotor lagi. 

Di kafe juga bisa sekalian meet up dengan editor, klien, atau sesama penulis. Jadi, bukan untuk gaya-gayaan.

 Siapa Bilang Menulis Tidak Butuh Modal?
Meet up penulis dan editor di kafe.


12. Nama baik (reputasi).
Nama baik merupakan modal penting bagi penulis. Penulis yang terkenal sebagai biang nyinyir, penyebar hoax, hobi ngaret (deadline Februari, selesai Desember), menyebalkan saat bekerja sama, dan sejenisnya sudah kehilangan satu modal.

Teman saya, editor di sebuah penerbit besar, bercerita bahwa mereka memutuskan menolak sebuah naskah (yang sebenarnya bagus).

Penyebabnya? Setelah mereka stalking ke akun medsos si penulis, ternyata statusnya melulu berisi keluhan (padahal bukunya tentang motivasi), makian, atau berita hoax.

Hargai Dirimu

Semoga tak ada lagi penulis yang beranggapan “Menulis kan cuma duduk di depan laptop dan ketak-ketik nulis. Nggak keluar modal.”

Harga waktu yang kita gunakan untuk menulis. Hargai keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan kita. 

Kalau bukan kita yang memulai menghargai diri kita sebagai penulis, mau mengharapkan siapa?

Salam,
Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter

No comments :

Post a Comment

Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus. Terima kasih :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...