7 Hal yang Bikin Editor Lepas Menangis




7 Hal yang Bikin Editor Lepas Menangis

Editor lepas alias freelance editor adalah editor yang bukan karyawan penerbitan. 

Kerjaannya bisa datang dari penerbit mana aja, dari lembaga-lembaga, atau dari perorangan

Kantornya ya di rumah sendiri, walaupun pada kenyataannya bisa aja pindah ngantor ke kafe, perpustakaan, masjid, atau workspace yang  belakangan ini lagi ngetren. Belum lagi meet up di kafe-kafe dengan klien (yang dibayarin oleh klien 😉)

Asyik, ya? 

Di balik keasyikan itu, ada tujuh hal yang bisa bikin editor lepas ini meringis, bahkan pengin menangis. 

Penasaran? Terusin baca, ya. Boleh sih kalau mau nyuci dulu, tapi ntar balik lagi ke sini, ya.

7 Hal Ini Bisa Bikin Editor Lepas Menangis

1.  Isi cerita sangat menyedihkan.

7 Hal yang Bikin Editor Lepas Menangis
Gambar dari situs penyedia gambar gratis unsplash.com.

Ada kalanya editor lepas menerima naskah yang penceritaannya bagus dan  sangat menyentuh atau penuh penderitaan.

Apalagi kalau editornya jenis baperan. Atau jalan ceritanya mirip-mirip episode kelam memilukan si editor.

Bakal kejadian, deh, mengedit naskah sambil mengusap air mata. Lalu menghela napas panjang untuk mengusir sesak di dada.

Hei, editor juga manusia biasa. Meski mengedit itu katanya kerjaan otak kiri, tetap aja editor punya hati seperti es krim. Terlihat dingin tapi lembut dan mudah meleleh.




2. Honor nggak dibayar-bayar selama berbulan-bulan.
Apes, niiih... kalau begini. Ada yang pernah mengalami? Biasanya yang juga pernah mengalami seperti ini adalah penulis di media cetak. *hasil memantau status di lini masa FB*


3. Klien menghilang sebelum membayar.
Haduh, perihnyaaaa. Yang punya hobi menghilang begini biasanya perorangan. Kalau penerbit, kan, jelas berkantor di mana.

Makanya, untuk klien perorangan, lebih baik minta DP. Bukan Dewi Perssik, tapi down payment alias uang muka. 

Kalau sudah pegang DP, editor lepas yang baik hati dan rajin bekerja akan lebih bersemangat mengedit.


4.  Naskah ancur badai. Pengin nangis saking frustrasinya.

Editor Freelance
Gambar dari situs penyedia gambar gratis unsplash.com

Editor di penerbit hanya mengedit naskah yang sudah lolos seleksi. Sudah jelas naskahnya enak dibaca.

Beda dengan freelance editor. Naskah yang datang kadang-kadang acakadut alias  berantakan. Kalimat seperti benang kusut. Cerita muter-muter di situ-situ terus.

Rasanya seperti tersesat dalam labirin dan nggak nemu jalan keluar. Ngedeprok kehabisan tenaga, nangis, dan berharap pertolongan segera datang. 


5. Honor Ditawar Sadis
Ini termasuk yang bikin editor lepas pengin nangis bombay.

“Kk, bs edit naskahq? Tebalx 200 halm. BuTuh cpat n rapi, niy. Dua hari  ajj bs selesy kn, Kak.”
“Dua hari?”
“Iy. Sy bayar mahal dh, Kak.” 




Si editor lepas mikir bentar. Mempertimbangkan jadwal editan lain, jenis edit yang dilakukan, bahasa pengantar si calon klien yang alay suralay maralay, serta janji berani bayar mahal. 

“Oke, 30 ribu per halaman.”
“Hah? Mahal bngtz! Kn CUMA ngedit. Sribu per halmn, ea. Itu udh mahal, Kk.”

7 Hal yang Bikin Editor Lepas Menangis
Gambar dari situs penyedia gambar gratis gratisography.com.

Seribu per halaman katanya dan minta cepat. Boleh, sih. Dengan catatan kertas ukuran A4, spasi 2, huruf Times New Roman ukuran 48.


6. Ngucek mata, padahal baru selesai ngiris-iris cabe dan ngupas bawang merah.

Makanya… kalau lagi deadline dan berpotensi error, mendingan ngungsi aja ke perpustakaan atau kafe. Atau berbagi tugaslah dengan babang GoFood. Atau impor saja makanan dari warteg atau warung makan padang di seberang jalan. Selain berbagi tugas, juga berbagi rezeki.

Abaikan omongan nyinyir tetangga atau ibu warteg, “Emang di rumah ngapain aja? Kok nggak masak?”


 
7. Ngedit sambil ngemil gorengan. Mata fokus ke naskah, tangan ngambil gorengan. Nggak taunya yang terambil dan masuk ke mulut adalah cabe rawit yang pedes banget.
Berarti lain kali kalau beli gorengan, nggak usah pakai cabe rawit. Kelar urusan.

Ada yang mau nambahin lagi? 😀




Salam,

Triani Retno A
Penulis Buku Indonesia
Penulis Novel Indonesia
Editor Freelance
Blogger Indonesia
Blogger Bandung

Previous
« Prev Post

Related Posts

7 Hal yang Bikin Editor Lepas Menangis
4/ 5
Oleh

6 comments:

  1. Sepertinya aku kalo jadi editor bakalan jadi yang tipe baperan soalnya aku baca artikel ini sambil ngakak, hahaha. Salam kenal mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagus Kak editor baperan. Bisa menjiwai naskah :D :D

      Salam kenal kembali :)

      Delete
  2. Pernah ngerasain gimana ngedit naskah teman, namun itu untuk teman yang baru belajar. Sudah terasa berat jika ada banyak segi yang diabaikan dalam penulisan. Saya ngeditnya untuk dikementari sambail diperbaiki.Kalau kerrjaan kayak Teh eno mah belum pernah saya rasain. Belum ada penerbit yang nawarin, he he.
    Amit-amit deh, jika ditawar murah kayak gitu oleh insan alay suralay. Saya yang pernah bodoh bantuin orang nulis skripsi saja kapok berat. Bayaran harus memadai dan bisa untuk makan.
    Loh, tuh orang nulis untuk apa, dong. jadi hargai usaha editor lepas jika ingin sukses katrena insan kayak teh eno sudah kerja keras.
    Nanti main ke blog saya, ya, Teh. Jika tak sibuk, saya ikut lomba menulis dan butuh krisan juga, he he. Hatur nuhun.
    Oh ya, saya juga biasa beli makanan olahan dari warung dekat rumah agar tak perlu terlalu banyak masak. saya juga sibuk dengan blog dan tulisan selain urus rumah tangga. yang nyinyir mah tak didengarkan toh saya tak bisa mendengar, ha ha.
    Semoga Teh eno kian lancar rezekinya.Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peuriiiih ditawar sesadis itu, Teh. Beberapa temen freelancer juga pernah mengalaminya.

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon maaf, komentar dengan link hidup akan saya hapus :)