Koperasi Digital, Ketika Generasi Milenial Turun Tangan





“SHU hari ini ada nggak?”
“Ada dong. Tapi ntar ya, dihitung dulu.”
Dialog itu terjadi di ruang koperasi siswa sebuah SMA Negeri di Bandung pada awal tahun 1990an. Tahun itu generasi milenial paling tinggi masih duduk di SD.

Ketika itu, sebagai warga kelas Sosial yang merupakan jurusan sepi peminat, saya dan sebagian teman sekelas didapuk menjadi pengurus koperasi siswa.
Sekalian buat praktik pelajaran Ekonomi dan Akuntansi. Begitu alasan para pendapuk.
Sebagai pengurus koperasi, setiap hari kami mendapat SHU alias Sisa Hasil Usaha harian. Bentuknya? Kue-kue yang tidak habis terjual. Hehe….
Bagi kami ketika itu, yang kebanyakan adalah anak kos, dapat jatah kue gratisan tiap hari udah alhamdulillah banget.

Generasi Milenial yang Mengejutkan

Generasi milenial lahir pada rentang tahun 1980 – 2000. Mereka yang yang pada waktu saya SMA itu masih berseragam putih merah, sekarang mulai memegang peranan penting dalam roda perekonomian.
Terobosan yang mereka lakukan sering kali mengejutkan. Kreatif, inovatif. Kok kepikir ya untuk bikin yang seperti itu.
Lalu, lebih unggulkah mereka dibandingkan generasi saya? Hm… gimana ya. Awas jebakan “generasi gue lebih hebat”. Hehehe….
Bagi saya pribadi, setiap generasi memiliki keunggulan dan kekurangannya sendiri. Setiap generasi mempunyai tantangannya sendiri.
Menarik mundur ke sekian abad yang lalu, Ali bin Abi Thalib r.a sudah mengingatkan kita, “Didiklah anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Dalam buku Profil Generasi Milenial Indonesia yang disusun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Pusat Statistik, generasi milenial memiliki beberapa karakteristik. Karakteristik ini yang membedakannya dengan generasi-generasi sebelumnya.
koperasi digital dan generasi milenial
Karakteristik generasi milenial.
Yang menarik adalah kecenderungan generasi milenial ini dalam bekerja. Mereka mementingkan pengembangan diri dan mengejar tujuan (bukan sekadar gaji).
Bagi generasi milenial ini, mengembangkan kelebihan jauh lebih penting daripada memperbaiki kekurangan.
koperasi digital dan generasi milenial
Generasi Milenial dan Generasi Milea :D
Tak aneh jika kemudian muncul berbagai start up dan usaha berbasis teknologi informasi dari tangan mereka.


Koperasi Digital, Model Baru Koperasi

Di tangan generasi milenial, koperasi yang dulu hanya melayani lingkungan sekitar (koperasi sekolah, koperasi warga, koperasi karyawan kantor, dan sebagainya) sekarang cakupannya meluas.
Bentuknya pun tak melulu seperti koperasi yang dulu ada. Menjawab perubahan zaman, koperasi zaman now bertransformasi menjadi koperasi digital.
Ya memang sekarang zamannya serba digital, kan. Serba online. Semua serba terhubung dengan internet.
Bentuk boleh berbeda, tetapi semangatnya sama. Yaitu semangat kekeluargaan dan gotong royong. Semangat untuk mengumpulkan dan memberdayakan orang-orang, bukan sekadar mengumpulkan modal.
koperasi digital dan generasi milenial
Tetap memegang asas koperasi.
Kelebihan dari koperasi digital ini adalah layanannya bisa diakses oleh anggota koperasi di mana pun secara online.
Modal Rakyat, misalnya. Meski berkantor di Jakarta, misalnya, anggota koperasi bisa tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Koperasi Digital dan Semangat Wirausaha

Apakah koperasi digital masih mempunyai layanan simpan pinjam uang dan jual beli?
Masih. Namun, teknisnya berbeda. Anggota tak perlu datang langsung ke koperasi. Menyimpan dan meminjam uang dilakukan secara online. Begitu juga dengan jual beli.
Kalau tidak serbadigital begitu, sulit mendekatkan koperasi dan generasi milenial yang maunya serba online.

Bagus nih kalau koperasi "gaya lama" mau beralih menjadi koperasi digital agar dapat lebih merangkul masyarakat, terutama generasi milenial. 

Untuk dukungan sistem teknologinya, ada produk dari Multi Inti Sarana Group yang dapat dijadikan alternatif solusi. Namanya coopRASI.
Lalu, apa bedanya koperasi digital dengan pinjaman online yang sekarang menjamur dan memunculkan banyak bermasalah?
Tentu saja berbeda. Prinsip dasarnya juga udah beda, kok. Koperasi digital berasaskan pada kekeluargaan dan gotong-royong. Saling menolong. Bukan untuk menyusahkan anggotanya.
Pinjaman yang diberikan oleh koperasi digital adalah pinjaman produktif untuk membiayai usaha kecil milik anggota.
koperasi digital dan generasi milenial
Koperasi digital memberi pinjaman modal produktif.
Bisnis skala kecil ini kan biasanya susah dapat pinjaman dari bank. Tak sedikit yang usahanya tak berkembang karena terkendala modal. Nah, koperasi digital memudahkan urusan ini untuk pebisnis kecil.
Seperti di bank, koperasi juga melihat dulu kelayakan bisnis dari calon peminjam. Gimana cashflow-nya selama ini, gimana pasarnya, gimana prospek ke depannya.
Jadi, nggak ada tuh siapa pun bisa minjem duit dengan syarat super-duper ringan seperti di pinjaman online untuk kemudian diteror sampai stres.


Semangat Milenial

Semangat generasi milenial yang senang berkolaborasi ini patut mendapat acungan jempol.
Selama itu untuk kebaikan dan kebermanfaatan bersama, ayo kita dukung.
Saya, pengurus koperasi siswa zaman Milea masih pacaran sama Dilan, mendukung semangat kolaborasi ini. Kalian juga, kan?



Salam,

Triani Retno A
Previous
« Prev Post

Related Posts

Koperasi Digital, Ketika Generasi Milenial Turun Tangan
4/ 5
Oleh

2 comments:

  1. Zaman memang sudah berubah ya. Asalkan menuju hal-hal yang makin positif, patut kita dukung, termasuk koperasi digital dan pinjaman online.

    ReplyDelete
  2. Zamannya serba digital kini yah.. Dengan adanya koperasi digital, semoga perekonomian Indonesia semakin bagus..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung. Mohon maaf, komentar dengan link hidup dan broken link akan saya hapus :)