Hijab for Sisters

Wisata Sejarah di Bandung, Estetiknya Kota Tua

 Wisata sejarah di Bandung

Berlibur ke Bandung tak akan cukup satu hari. Begitu banyak tempat wisata menarik di Bandung.

Dari wisata kuliner, wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, hingga wisata religi. Semuanya begitu menarik untuk didatangi.

Bagi seorang Lifestyle Blogger, keragaman tujuan wisata itu bisa menjadi bahan tulisan yang menarik. Tidak hanya mengangkat sisi wisatanya, tetapi juga bisa mengulik dari sisi kulinernya, menginap di hotelnya, berburu oleh-oleh, dan sebagainya.

Eh tapi, tempat-tempat wisata alam adanya di luar Kota Bandung, sih. Kawasan Lembang ada di Kabupaten Bandung Barat. Begitu juga dengan Padalarang yang terkenal dengan kawasan wisata purbakala Stone Garden.

Kawasan Wisata Ciwidey (Rancaupas, Situ Patenggang, Kawah Putih, Perkebunan Teh Rancabali) adanya di Kabupaten Bandung. Tahura Djuanda (Dago atas) pun ternyata masuk ke wilayah Kabupaten Bandung.

Bagaimana kalau hanya satu hari di Kota Bandung dan karena sesuatu hal tidak bisa berwisata alam ke luar kota? Nggak seru ah kalau cuma mendekam di hotel.

Ya masa ke Bandung cuma buat tidur?

Kalem. Di Kota Bandung juga banyak tempat wisata menarik yang bisa didatangi

Bagi pencinta sejarah dan bangunan kuno, pusat Kota Bandung adalah sebuah “surga kecil”.

Kali ini kita berjalan kaki saja di Jalan Asia Afrika, ya. Lokasi satu tempat dengan tempat lainnya berdekatan. Malah kagok kalau naik kendaraan mah.

Jalan Asia Afrika ini membentang dari Tugu Simpang Lima (Jalan Asia Afrika, Jalan Sunda, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Ahmad Yani) hingga persimpangan Jalan Asia Afrika – Jalan Otto Iskandar Dinata – Jalan Sudirman.

Tapi kali ini kita fokus ke ruas Jalan Asia Afrika dari persimpangan Tamblong hingga Banceuy saja. Ini pun sudah menjadi tulisan panjang.

 

Wisata Sejarah di Bandung

Seperti halnya kota-kota lain di Indonesia, di pusat kota ada alun-alun. Di sekitar alun-alun yang berbentuk persegi empat biasanya ada pusat pemerintahan, pusat perdagangan, tempat ibadah, dan penjara.

Begitu juga dengan Kota Bandung. Di satu sisinya ada Masjid Raya Bandung. Di sisi lainnya ada Pendopo yang menjadi kediaman resmi Wali Kota Bandung.

Di sisi lain ada pusat perbelanjaan. Hm … sekarang di kawasan pusat kota ini banyak banget tempat perbelanjaan sih. Tumbuh subur seperti kenangan di musim hujan.

Baca Juga: Wisata Religi di Kampung Quran Bandung

 

1. Hotel Preanger

Wisata sejarah di Bandung kita mulai dari persimpangan Jalan Asia Afrika – Jalan Tamblong. Sebuah hotel tua berdiri gagah di sana. Hotel Preanger. Kalau tidak menginap di hotel bersejarah ini, masih bisa kok foto-foto di depannya.

Hotel Preanger awalnya adalah sebuah toko. Setelah toko itu bangkrut, pada tahun 1897 bangunan toko tersebut diubah menjadi hotel. Btw, nama “Preanger” sendiri berasal dari kata “Priangan”.

Pada tahun 1920an Wolff Schoemaker bersama Ir. Sukarno membuat rancangan hotel yang modern.

Charlie Chaplin yang singgah di hotel ini pada tahun 1932 menyebutkan bahwa Preanger adalah satu-satunya hotel dengan fasilitas ala Eropa di Tanah Jawa.

Hotel Preanger Bandung di Jalan Asia Afrika
Hotel Preanger Bandung, difoto dari arah Jalan Tamblong.

 

2. Hotel Savoy Homann

Lokasi hotel ini hanya beberapa langkah di seberang Hotel Preanger. Savoy Homann pada tahun 1880 adalah sebuah bangunan kayu milik orang Jerman bernama Homann.

Bentuk hotel yang ada sekarang adalah rancangan A.F Aalbers dan mulai dibangun tahun 1938.

Pada Konferensi Asia Afrika tahun 1955, para pemimpin negara menginap di hotel ini.

Wisata sejarah di Jalan Asia Afrika Bandung
Mesti pagi-pagi ke sini supaya dapat waktu sepi (tapi kemudian semua orang berpikiran sama). 

 

3. Tugu Nol Kilometer

Titik nol kilometer Bandung bukanlah di tempat yang sekarang menjadi Alun-Alun Kota Bandung.

Titik nol kilometer ini berada sekitar 600 meter dari Alun-Alun Bandung. Tepatnya di depan Kantor Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat. Sebuah tugu berdiri di lokasi ini.

Tahun 1810, Daendels yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda menancapkan tongkat di sana. Ia berkata kepada Bupati Bandung R.A Wiranatakusumah II agar di tempat itu dibangun sebuah kota.

Selain tugu, di sini pun ada monumen mesin stoomwall (mesin penggiling jalan). Monumen ini untuk mengenang rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa pembangunan Jalan Raya Pos.

Tugu Nol Kilometer Bandung ini berlokasi di seberang Hotel Savoy Homann.

Nol kilometer Bandung
Di titik nol kilometer Bandung.

 

4. Gedung Pikiran Rakyat

Berjalan beberapa puluh meter ke arah barat dari Tugu Nol Kilometer, kita akan tiba di Gedung Pikiran Rakyat. Disebut begitu karena sejak tahun 1971 ditempati oleh Harian Umum Pikiran Rakyat.

Gedung ini dibangun tahun 1920-an dengan Wolff Schoemaker sebagai arsiteknya. Digunakan sebagai kantor de Kock, Sparkes & Co.

 

5. Gedung Kimia Farma

Gedung ini terletak di persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Braga.

Sejak didirikan tahun 1902, gedung ini berfungsi sebagai toko farmasi.

 

6. Gedung Merdeka

Dari Gedung Kimia Farma, kita menyeberang Jalan Braga. Sampailah kita di Gedung Merdeka, masih di Jalan Asia Afrika.

Dahulu gedung ini merupakan tempat berkumpulnya orang-orang Belanda (Societeit Concordia). Bentuknya ketika itu belum seperti sekarang.

Baru pada tahun 1920-an direnovasi besar-besaran dengan gaya art deco. Yang menjadi arsiteknya adalah Van Gallen dan Wolff Schoemaker.

Banyak peristiwa penting di gedung ini. Di antaranya adalah Konferensi Asia Afrika (1955), Konferensi Islam Asia Afrika (1965), dan pertemuan Gerakan Non Blok (1974).

Wisata sejarah di sini makin seru karena Gedung Merdeka ini terbuka untuk umum.

Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung
Gedung Merdeka Bandung. (Foto http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya)

 

7. Warenhuis De Vries

Dahulu gedung ini adalah milik Andreas de Vries. Ia datang ke Bandung pada tahun 1899.

De Vries adalah seorang pedagang. Toko De Vries merupakan toko serbaada pertama di Bandung. Bermacam-macam barang dijual di toserba De Vries ini. Dari makanan, buku, pakaian, hingga obat-obatan dan barang pecah belah.

Kini Gedung De Vries dimiliki oleh Bank OCBC NISP.

Lokasinya di mana? Dekeeet. Berseberangan dengan Gedung Merdeka dan Kimia Farma. Tepat di sebelah Hotel Savoy Homann. Di tusuk satenya Jalan Braga.

Tuh, kan, letaknya deket-deketan. Makanya lebih enak berjalan kaki saja daripada berkendara.

Bangunan bersejarah di Bandung.
Sebagian tampak muka Warenhuis de Vries. Sebagian lagi ada di foto pertama tulisan ini. Sepanjang itulah bangunan peninggalan kolonial ini.

 

8. Gedung PLN

Yuk, kita terus berjalan kaki ke arah barat. Bukan untuk mencari kitab suci bersama Sun Go Kong, tetapi menikmati wisata sejarah di area Kota Tua Bandung.

Beberapa puluh meter dari Gedung Merdeka, ada gedung yang sekarang dimiliki oleh PLN. Lokasinya di sisi Sungai Cikapundung.

Sejak dibangun pada  masa kolonial Belanda, gedung ini sudah berfungsi sebagai kantor tenaga listrik. Dulu namanya Bandoengsche Electriciteit Maatschapij, yang lalu menjadi Gebeo NV, baru kemudian menjadi kantor PLN.

 

9. Nedhandel NV

Begitu nama yang tertera di bagian atas gedung yang dibangun pada tahun 1912 ini.

Pada masa kolonial, gedung ini merupakan kantor perusahaan dagang Belanda, yaitu Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) NV.

Kantor dagang tersebut kemudian berkembang ke bidang perbankan. Sekarang gedung ini menjadi Gedung Bank Mandiri.

Oya, ada dua gedung peninggalan kolonial yang menjadi Gedung Bank Mandiri di Jalan Asia Afrika. Yang satu lagi berada di persimpangan Jalan Asia Afrika – Jalan Banceuy. Hanya sekitar 100 meter dari Nedhandel NV.

Di antara kedua gedung Mandiri itu ada Gedung Jiwasraya yang dibangun tahun 1914.

 

10. Situs Penjara Banceuy

Dulu di satu sisi lain alun-alun ada Penjara Banceuy. Bung Karno pernah menjadi tawanan Belanda di salah satu selnya.

Bangunan penjara itu sudah lama dihancurkan. Tinggal menyisakan satu sel yang dulu ditempati Bung Karno, serta satu menara pengawas.

Bagian lain dari penjara ini sudah berubah menjadi pertokoan Banceuy Permai.

Dari arah Jalan Banceuy, situs ini berada di belakang Gedung Bank Mandiri.

Kalau dari arah Jalan ABC, kawasan wisata sejarah ini berada di dekat Pasar Antik Cikapundung dan Masjid Al-Imtizaj, masjid berarsitektur Tionghoa.

 

11. Kantor Pos Besar

Pada zaman Belanda, gedung yang dibangun pada tahun 1863 ini bernama Posten en Telegraaf Kantoor.

Renovasi besar-besaran dilakukan pada tahun 1928 dan selesai pada tahun 1931. Sekarang bangunan megah dan kokoh ini berfungsi sebagai Kantor Pos Besar Bandung.

Letaknya tepat di hook Jalan Asia Afrika dan Jalan Banceuy, berseberangan dengan Gedung Bank Mandiri di sisi timur dan Hotel Swarha di sisi utara.

Berbeda dengan bangunan peninggalan kolonial lainnya yang mepet ke jalan raya, Kantor Pos Besar memiliki halaman depan yang cukup luas.

Baca Juga: Museum Pos Indonesia Bandung

Kantor Pos Besar Bandung
Yuk ke kantor pos. Foto: https://www.merdeka.com/gaya/jalan-asia-afrika-kawasan-bersejarah-dan-pusat-kota-tua-di-bandung.html

 

12. Hotel Swarha

Lokasi hotel ini tepat di depan Kantor Pos Besar. Ada jembatan penyeberangan yang menghubungkan kedua bangunan tua ini.

Masjid Raya Bandung dan Alun-Alun pun berada sangat dekat dengan hotel ini.

Ketika Konferensi Asia Afrika tahun 1955 hotel ini menjadi tempat menginap para wartawan dari dalam dan luar negeri.

Sekarang gedung ini terbengkalai. Lantai dasar masih dioperasikan sebagai toko kain dan busana. Namun, lantai-lantai di atasnya tak terurus.

Malah pernah saya baca, sekelompok orang melakukan uji nyali di gedung tua ini. Tertarik untuk melakukan wisata horor di sini? Saya sih ogah. Hatur thank you.

Bahan untuk menulis Cerita-Cerita Horor di Bandung part berikutnya? Hm …saya nggak tertarik untuk sengaja mencari. Memangnya saya berani? Nggak, tuh.

 

Jalan Braga dan Sekitarnya

Jalan Braga ada di mana?

Ah, tadi kan kita sudah menyeberangi Jalan Braga ketika dari Gedung Kimia Farma ke Gedung Merdeka. Di Jalan Braga ini pun banyak bangunan peninggalan Belanda.

Kalau mau berwisata kuliner dengan nuansa jadul, silakan menyusuri seruas jalan ini. Di antara kafe-kafe kekinian, masih terselip beberapa kafe dan resto yang mempertahankan nuansa zaman baheula.

Misalnya Toko Roti Sumber Hidangan (sejak 1929, dulu namanya Het Snoephuis) dan Restoran Braga Permai (sejak tahun 1923).

Sempet nggak nih berjalan-jalan menikmati wisata sejarah di Asia Afrika dan Braga?

Sempetlah, masa enggak. Cuma nih, kalau sedang berjalan-jalan di Asia Afrika siap-siap saja bertemu dengan “para hantu”. Kadang-kadang serem, tapi kadang-kadang malah bikin ngakak sih.

Next kita khusus berjalan-jalan di Braga, Tamblong, dan ruas jalan lain di Kota Bandung ya.

Baca Juga: Menyusuri Jalan Cibadak Bandung

 

Keep Bandung clean and beautiful.

Salam,

Triani Retno A

www.trianiretno.com


Referensi

  • https://bandungbergerak.id/article/detail/437/gedung-jiwasraya-bandung-dilelang-pelestarian-cagar-budaya-jangan-hilang
  • https://www.serbabandung.com/gedung-bank-mandiri/
  • https://tindaktandukarsitek.com/2017/08/04/jalan-asia-afrika-nuansa-kolonial-masa-lampau/


7 komentar

  1. Wisata sejarah bangunan peninggalan kolonial di Bandung.

    BalasHapus
  2. Wah, saya telat baca postingan, Mbak Eno ini. Padahal saya sempat ke Bandung 9/9 kemarin, dan hanya sehari. Tapi pasti sempatlah ke beberapa tempat.
    Hanya memang kemarin itu Bandung hujaaaaaan terus hehehe.

    Saya save nih, Mbak. Insya Allah saya ke Bandung kalau pas kemarau saja. Jadi ga takut lecek, walau banyak ojek hahaha.

    BalasHapus
  3. Bandung ini mirip bogor ya dari sisi wisata sejarahnya karena cukup banyak bangunan2 peninggalan kolonial.
    Sejauh ini belum pernah sih aku mbak eksplor wisata sejarah di Bandung, tapi kepikiran juga kayaknya menarik juga ya untuk wisata sejarah kalau main ke Bandung nanti

    BalasHapus
  4. Kota tua emang ngga ada matinya keindahannya untuk dieksplorasi, beruntung Bandung salah satu kota yang memiliki kota tua dan masih merawat serta menyimpan keindahannya dengan baik sehingga sampai saat ini masih bisa dinikmati

    BalasHapus
  5. udah lama banget gak ke bandungg, huhu.. jadi pengen jalan-jalan ke bandung lagi hehe.. tapikalau ke badung lebih banyak kuliner deh pasti hehe

    BalasHapus
  6. Gedung merdeka ini iconic banget ya mbak, seketika langsung inget sama pelajaran SD dulu. Bandung juga salah satu kota yang pengen aku datengi sih mbak, pengen lihat pembangunannya pak RK hihihi

    BalasHapus
  7. Meilia Wuryantati19 September 2022 21.10

    Wah bisa jadi referensi banget nih buat wisata sejarah di Bandung, beberapa waktu lalu juga ke Bandung tapi beneran baru tahu kalau Tugu Nol Kilometer Bandung ini berlokasi di seberang Hotel Savoy Homann, padahal nemenin suami meeting di hotel Savoy Homann, next trip nih bisa diagendakan, thanks kak info2 di artikel nya, bermanfaat banget

    BalasHapus

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih sudah berkunjung. Semoga mendapat manfaat dari tulisan di blog ini.