02 September 2016

Dakken Cafe, Kafe Bergaya Kolonial di Bandung yang Nyaman untuk Meeting dan Bersantai


Dakken Cafe BandungDakken Cafe   Matahari di langit kota Bandung sedang terik-teriknya saat saya tiba di pelataran Dakken Cafe. Dari luar, kafe bergaya kolonial yang berlokasi di Jalan Riau (alias Jalan L.L.R.E. Martadinata) nomor 67 ini terlihat sepi. Hanya ada tiga mobil terparkir di halamannya. Mungkin karena pas waktunya shalat Jumat, ya.

Sejenak saya berdiri di bawah kerindangan pohon di depan halaman Dakken Cafe. Meski sering melewati tempat ini, baru kali ini saya bisa mengamatinya dengan saksama.

Dakken Cafe ini menempati sebuah rumah peninggalan Belanda. Sisi barat bangunan berbentuk seperti menara.

Sebelum imajinasi saya mengembara ke masa lalu dan tersesat di sana, saya segera menyeberangi halaman kafe. Mbak Linda, senior editor Penerbit Elex Media Komputindo, sudah menunggu di dalam.

Dakken Cafe Bandung
Tampak luar Dakken Cafe di Jalan Riau No. 67 Bandung

Bertamu ke Rumah Tempo Doeloe

Ruangan-ruangan lega layaknya rumah tempo doeloe menyambut saya. Sambil celingukan mencari Mbak Linda, mata saya menikmati ruang demi ruang. 

Masuk ke Dakken Cafe ini seperti masuk ke sebuah rumah tinggal saja. Ruangan paling depan yang terletak di sebelah lobi seperti sebuah ruang tamu. Hm… cocok untuk menjamu relasi dalam suasana yang hommy.

Melangkah ke dalam lagi, ada sebuah ruangan yang layaknya ruang keluarga dengan dua set meja kursi. Ada satu keluarga yang sedang santai bersantap siang di sana. Deu.... jadi inget anak-anak #naluriemak




Beberapa ruang dibuat lebih privat dengan pintu kayu. Interiornya mengingatkan saya pada film-film berseting tahun 1940-an. Mungkin zaman dulu itu kamar-kamar tidur.

Ruangan-ruangan itu seperti ruang makan di rumah-rumah. Dengan meja makan panjang dari kayu dan delapan kursi kayu. Hei, sepertinya asyik juga kalau meeting di ruangan jadul ini. Apalagi ruangannya tertutup. Bisa lebih fokus dan nggak khawatir ada yang nguping.


Dakken Cafe Bandung
Ruangan-ruangan di dalam Dakken Cafe. Unik dan tidak monoton.

Langkah saya sampai ke halaman dalam. Wow! Asyik sekali di sana. Di sana-sini tumbuh pohon yang menjulang tinggi. Di teras belakang ada beberapa set meja dengan kursi santai. Plus ada beberapa gazebo.

Nah! Itu editor saya, menunggu di salah satu gazebo. Asiiik … mee-can alias meeting cantiknya di tempat terbuka.
 
Dakken Cafe Bandung
Taman dan gazebo di Dakken Cafe Bandung. Teduh dan bikin betah.


Makanan Andalan Dakken Cafe

“Menu andalan di Dakken Cafe ini apa, Teh?” tanya saya setelah memperhatikan daftar menu. Mbak Linda dan Wiwit sudah lebih dulu memesan makanan dan minuman.

Ternyata, menu andalan Dakken Cafe ini adalah beef steak. Cepat saya menelusuri daftar menu. Tenderloin steak, pepper steak, sirloin steak, prime australian beef loin, t-bone steak, lamb chop, lamb shank, ox tongue, beef cordon bleu. Untuk menu beef ini, harganya berkisar dari Rp 75.000,- sampai Rp 175.000,- per porsi.

“Pesen aja, Eno. Steak-nya enak, lho,” kata Mbak Linda. Mungkin itu semacam kode supaya saya nggak menghidupkan kalkulator di dalam kepala. Hihihi ….

Mbak Linda sendiri sudah memesan seafood. Sebelumnya beliau sudah beberapa kali makan di kafe ini. Makanya bisa merekomendasikan beef steak-nya.


“Emh… saya nggak makan daging merah, Mbak,” sahut saya pasrah. Kalau seiris doang sih masih berani. Lah kalau steak … masa cuma saya cuil sedikit doang? Apalagi ini menu andalan. Rasanya pasti top markotop.

Duuuh… ini godaan banget. Tapi kalau teringat persendian yang bisa langsung sakit dan kaku-kaku kalau makan daging merah … akhirnya saya berhasil mengalahkan negara api godaan lezat itu. Horeee.

Si Teteh yang sabar menunggu pesanan saya menyarankan hidangan berbahan ayam atau seafood. Ah, ya. Usul yang bagus.

Saya sempat ingin memesan chicken ballotine karena yah, saya belum pernah mencicipi makanan yang namanya seperti ini. Hehe…. Tapi urung karena melihat ada asparagus di dalamnya. Saya suka asparagus, sebenarnya. Tapi seingat saya asparagus ada dalam daftar makanan yang harus saya hindari.

Akhirnya, pilihan saya jatuh pada chicken cordon bleu. Smoked chicken dengan mozarella, french fries, dan barbeque sauce.


Untuk minuman saya memesan milkshakes cokelat. Deretan smoothies-nya menggoda, sih. Tapi kenapa saya malah mesen milkshakes cokelat, ya? Ahaha … ini kayaknya kebiasaan spontan kalau makan di luar sama anak-anak. Pasti ada saja yang memesan minuman satu itu.

Dan tadaaaa…. Ini dia makanan pesanan saya. Daging ayamnya terlihat seperti risoles supergendut. Ketika dibelah, mozarella-nya langsung melambai-lambai.
 
Dakken Cafe Bandung
Chicken courdon bleu, salah satu menu di Dakken Cafe Bandung. Satu porsinya Rp 45.000.



Hm … lezat. Daging ayamnya empuk. Saus barbeque plus zukini dan paprikanya pun enak. French fries-nya? Hei, saya penggemar kentang. Dan saya suka dengan french fries ini. Apalagi ini judulnya ditraktir. Jadi lebih sedap rasanya. Hehehe ....

Saya lirik piring Mbak Linda. Wow! Itu ikan salmon dan mashed potato-nya terlihat sedap sekali.


Menu di Dakken Cafe Bandung
Menu seafood (atas) dan appetizer (bawah) di Dakken Cafe Bandung.
 

Nyaman di Keteduhan

Suasana yang teduh dan adem membuat betah berlama-lama di Dakken Cafe. Untuk berbincang serius tentang pekerjaan pun terasa nyaman. 

Mau shalat? Tenang saja. Ada sebuah mushala kecil untuk pengunjung yang hendak shalat. Tapi untuk yang berkerudung, sebaiknya berwudhu di toilet saja karena tempat wudhu di sini terbuka. Lagi pula mushala mungil yang bersih ini tidak dilengkapi dengan cermin. Jadi agak susah kalau mau merapikan kerudung. 

Dakken Cafe Bandung
Makan dulu sebelum mulai mee-can :)

Konferensi Meja Bundar di gazebo Dakken Cafe berakhir sekitar pukul 14.30 karena Mbak Linda dan Wiwit harus segera kembali ke Jakarta. 

Makasih untuk mee-can siang ini, Mbak Linda. Insya Allah membawa hasil yang cantik pula.


Destinasi Wisata di Sekitar Dakken Cafe

Jalan Riau tempat Dakken Cafe ini berada merupakan salah satu tujuan wisata kuliner dan wisata belanja di Bandung. Dari ujung ke ujung berderet kafe dan factory outlet. Jalan Riau ini sendiri tidak jauh dari Jalan Dago yang juga menjadi tujuan wisata kuliner dan belanja.


Factory outlet yang terdekat dari Dakken Cafe adalah Cascade (Riau 65), Heritage (Riau 63), dan The Summit (Nomor 61). Di seberang Cafe Dakken sendiri ada Stamp, FO yang bertempat di Graha Pos. Di kawasan Graha Pos ini juga berderet-deret gerai ATM. Kali aja kan mau belanja-belanji di kawasan ini.

Oh ya, kalau mencari yang berbeda, bisa coba berburu barang kuno dan antik di Old and New (Riau 85).


Rute Angkutan Umum
Kalau mau ke sini tapi lagi malas bawa kendaraan sendiri, tenang aja. Ada kendaraan umum. Selain taksi dan ojek yang bersifat privat, bisa kok naik angkutan umum yang bersifat massal. 

Angkot Ledeng - Margahayu (dan arah sebaliknya) yang berwarna biru langit cerah strip kuning menyusuri Jalan Riau Bandung kok. Angkot biru ini lewat persis di depan Dakken Cafe.

Kalau dari arah Dipati Ukur, bisa naik angkot Dipati Ukur - Panghegar (putih strip kuning-merah-hijau). Turun di depan Graha Pos. Dari situ menyeberang dan jalan kaki sebentar.

Nah, selamat jalan-jalan dan bersantai di Bandung. Keep Bandung clean and beautiful, ya. :)



Salam, 

Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger
www.trianiretno.com
 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...