18 December 2014

Ide Mesti Dicari, Bukan Ditunggu


Tanggal 22 November 2014 kemarin saya ikut acara workshop penulisan yang diadakan oleh Penerbit Elex Media Komputindo (EMK).


Ada enam alasan yang membuat saya memutuskan untuk ikut acara ini. Pertama, enam novel saya terbit di EMK dan saya juga editor lepas di Quanta EMK. Kedua, sebagai freelancer saya harus terus belajar. Ketiga, silaturahmi dengan editor dan sesama penulis.
Keempat, biaya workshopnya terjangkau. Kelima, lokasinya di Bandung (anak saya udah komplain karena selama Oktober-November saya sering keluar kota). Keenam, saya lolos seleksi. Hehehe.... Iya, calon peserta workshop memang diseleksi dulu.

Ide Harus Dicari


Tema workshop ini sangat menarik. "Cara Kreatif Mencari Ide Penulisan". Penting banget, nih. Berkecimpung di industri ini kan memang mesti selalu siap dengan ide baru. Kalau sampai mati ide, aliran penghasilan bisa mati juga. Jadi, ide mesti dicari, bukan ditunggu.

Ide sering ada di dalam diri kita sendiri.

Itu mencari ide versi Fayya Narita dalam novel teenlit saya, It's Not A Dream yang diterbitkan oleh EMK. Kalau menurut Mas Anang eh Mas Ary gimana?

Menurut Mas Ary yang GM EMK ini, ide harus dicari, bukan ditunggu. Kita bisa mendapat ide dari buku-buku yang sudah terbit (terutama yang best seller). Caranya, gunakan metode ATM. Amati, Tiru, dan Modifikasi. ATM ini beda loh dengan plagiasi. (Omong-omong, metode ATM ini juga sering digunakan oleh pengusaha, lho.) Selain itu, untuk memancing ide kita bisa menggunakan mind mapping

Lagi serius latihan. Nyadar sih difoto, tapi kan lagi akting seriuuus! :D
(foto: Linda R) 

Prioritaskan Pembaca

Ada beberapa hal menarik yang saya catat dari penjelasan Mas Ary.
  • Dalam menulis, prioritaskan pembaca. Yang akan ditulis itu sesuai atau nggak dengan kebutuhan pembaca? Temanya disukai oleh pembaca atau nggak, nih? Jadi, penulis nggak bisa sekadar menulis dari ego dan sudut pandang kebutuhannya sendiri.
  • Persiapkan diri sebelum menulis. 
  • Petakan pikiran dengan menggunakan mind mapping. Terus terang, selama ini saya sih nggak pakai mind mapping. Outline yang saya pakai biasanya berbentuk poin-poin vertikal ke bawah berisi garis besar setiap bab. Hm... sepertinya saya akan mencoba memakai mind mapping ini juga, deh untuk menangkap ide yang berkelabatan dan meloncat-loncat di benak saya. Setidaknya untuk outline buku nonfiksi.
  • Riset. Cari materi atau referensi untuk memperkaya tulisan. Hehe... artinya: penulis harus banyak membaca, tuh. Dalam proses riset ini, bisa saja muncul ide-ide tambahan.

Selesai workshop, semangat menulis berkobar-kobar. Ide-ide pun rasanya berloncatan kian kemari. Hm...nulisnya kapan, ya? Weits... jangan cari-cari alasan, deeeeh! :D

Kak Luky sedang membuka acara. (foto: dok. pribadi)

Mbak Retno Kristi sedang presentasi.
Bila kirim naskah, sertakan sinopsis buku secara keseluruhan.
(foto: dok. pribadi)
Mbak Linda Razad, pemateri terakhir. Rajin lihat buku-buku dari luar untuk mencari ide.
Eh, banyak yang motretin Mbak Linda tuh. Suit suiw... Mbak Linda banyak fans, nih.
*Kabur* (foto: dok. pribadi) 



Foto bareng seusai workshop
Retno dan Retno (tolong abaikan kerudungku yang agak berantakan :D )
Satu Retno lagi, kita bakal dapat piring cantik nih, Mbak :D (foto: dok. pribadi)




Udah tau telat masuk sehabis break, malah foto-fotoan dulu dengan Mbak Retno, Mbak Linda, Mas Sinyo
dan Kang Ale sekeluarga yang datang dengan senampan awug. (foto: dok. pribadi)

Naaah...ini dia si awug cs. Lupis, cenil, klepon, putri noong, dll.
Si awug sendiri masih berselimut daun pisang.
Awug ini selalu ada setiap Komunitas PBA ngumpul.
Hampir semua peserta workshop ini adalah anggota PBA. (foto: dok. pribadi)

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...