Raw Food ala Orang Sunda


Raw food ala orang Sunda


"Cari jodoh tuh orang Sunda aja. Nggak ribet soal makan. Dilepas di kebun juga bisa makan kenyang.”
Pernah dengar kalimat candaan seperti ini? Saya sering. Hehe…. 

Didengar sepintas, rasanya aneh dan menyebalkan banget, deh. Dilepas di kebun juga bisa makan kenyang. Aiiih, memangnya kambing?
Kenyataannya, orang Sunda memang tak bisa lepas dari mengonsumsi beraneka dedaunan. Raw food ala orang Sunda memang wow.


Semua Dilalap

Jauh sebelum tren raw food atau raw juice ramai seperti sekarang, orang Sunda sudah terbiasa mengonsumsi sayuran mentah. 

Jika dirunut jauh ke masa lalu, kebiasaan ini tidak lepas dari lingkungan alam yang kaya dengan tanaman serta kedekatan manusia Sunda dengan alamnya. Kebun-kebun tumbuh subur. Kalau kata Koes Plus, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”

Waktu kecil, sebagai anak kelahiran Bandung yang dibawa merantau ke tanah Sumatra, saya sudah berkenalan dengan beberapa jenis lalapan. 

Bukan raw food yang bener-bener masih mentah, sih, melainkan yang sudah direbus sebentar. Di antaranya adalah labu siam, kacang panjang, kecipir, dan bayam.
Meski begitu, ketika kembali ke Kota Kembang saya kaget juga melihat beragamnya sayuran yang dimakan dalam keadaan mentah alias dilalap. Daun kemangi, daun selada, daun bluntas, daun antanan, daun tespong, daun poh-pohan, daun pepaya, daun singkong, dan sebagainya. 

Tak cuma daun-daunan, kacang panjang, kol, terong, kecipir, petai alias pete, bahkan kunyit muda dan daun mangga muda pun dijadikan lalap. 

Pilihan untuk menikmati wisata kuliner Bandung yang nikmat:



Seorang teman saya memberi trik untuk makan kenyang meski dompet sedang kempis. 
Bukan masuk ke kebun lalu melalap daun-daunan yang ada di sana. Bukan itu, dong. Yang ini lebih keren: masuk ke rumah makan Sunda. Di rumah makan … bisa makan kenyang padahal tidak punya uang? Bagaimana bisa?
Bisa saja. Caranya, pesan nasi putih dan lalap. Tak perlu menunggu lama, nasi putih hangat dan sepiring (atau malah sebakul) lalapan plus sambal akan diantar ke meja. 

Yang dibayar hanya nasi putih. Umumnya, rumah makan Sunda menghidangkan lalap + sambal ini secara gratis.

Tuh, kenyang, kan? Hehehe…. Cuma siap-siapin kulit muka yang ekstra tebal aja, ya.

Salad ala Sunda

Selain beraneka raw food alias lalapan, kuliner Sunda memiliki lotek dan karedok. Dua jenis makanan ini masih berkerabat jauh dengan gado-gado, pecel, dan salad sayuran. 

Lotek, salah satu makanan kaya serat khas Sunda
Memperkenalkan lotek, makanan khas Sunda yang kaya sayuran pada si kecil.

Sayuran pada lotek biasanya kangkung atau bayam, tauge, dan kacang panjang yang sudah direbus. Dicampur dengan bumbu kacang yang diulek dengan kencur dan kentang rebus.

Kalau karedok, sayurannya (kacang panjang, tauge, serta kol dan selada air yang diiris halus) disajikan mentah. Bumbunya sama seperti bumbu lotek.
Nah, kalau ngaku suka makan salad atau kalau makan di restoran ala-ala Amerika selalu mengambil salad sayuran, kenapa nggak mencoba salad ala Sunda ini? Lezatnya boleh diadu, deh. Krenyes-krenyes, legit, gurih, pedas semriwing.

Mau menikmati kuliner internasional di Bandung? Cobain ini deh:



Manfaat Raw Food 

Semakin ke sini, penikmat  raw food semakin banyak dan tak cuma orang Sunda. Orang Sunda mungkin melahap lalapan sebagai makanan yang diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, orang-orang lain mengonsumsi raw food karena tren atau karena menyadari manfaat yang terkandung di dalamnya. 
Salah satu manfaatnya, raw food memiliki kandungan enzim hidup. Pada sayuran yang dimasak, enzim ini bisa berkurang dan bahkan hilang jika dimasak terlalu lama. 

Enzim hidup ini sendiri memudahkan tubuh dalam mencerna makanan dan memperoleh energi. Selain itu, mengonsumsi raw food pun diyakini dapat membantu melangsingkan tubuh serta membuat tubuh terasa lebih segar. 
Wew! Orang Sunda pantas berbangga, dong, karena ilmu pengetahuan modern membuktikan bahwa lalap-lalapan warisan nenek moyang ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. 

Yang jelas, sih, pastikan sayuran mentah (juga buah-buahan, biji-bijian, dan umbi-umbian) yang dikonsumsi dalam keadaan segar dan bersih. 

Salam,



Triani Retno A
Penulis, Editor, Blogger

Tidak ada komentar

Komentar dimoderasi dulu karena banyak spam. Terima kasih.